Muhammad
Iqbal dan Filsafatnya “Eksistensialisme”
Abstrak
Religisiutas
sebagai sarana mencapai eksistensi menurut filsafat Muhammad Iqbal. Sebuah
kajian eksistensialisme kritik Iqbal tentang fatalisme Islam dan Materialisme
Barat Modern. Manusia sebagai makhluk eksistensial dituntut untuk memenuhi
eksistensi dirinya, bersifat aktif, dinamis, dan kuat. Manusia tidak seharusnya
pasif, statis, bahkan menarik diri dari kepentingan duniawi dan tunduk secara
buta pada ajaran tertentu. Materialisme Barat Modern telah menghilangkan
metafisika dan mengakibatkan timbulnya krisis eksistensial manusia, alienasi,
dan dehumanisasi.
Kata
Kunci : Eksistensialisme,
Fatalisme, Materialisme, Alienasi, Dehumanisasi
I.
Pendahuluan
Hancurkan dunia sampai berkeping-keping
bila tidak sesuai denganmu
Dan ciptakan dunia yang lain dari kedalaman wujudmu
Betapa pedihnya manusia merdeka yang hidup
di dunia yang diciptakan oleh manusia lain
(Muhammad Iqbal)[1]
Shair
Iqbal di atas merupakan ekspresi kegeramannya menyaksikan umat Islam yang
kehilangan kemerdekaan untuk menjadi diri sendiri dan larut dalam dunia yang
diciptakan orang lain. Shair itu harus dimaknai secara filosofis
dalam arti bahwa Iqbal menyuarakan pesan universal bagaimana seharusnya cara
berada seorang individu dan sekaligus komunitas Muslim. Sebagai filsuf eksistensialis, Iqbal menghendaki
kaum Muslimin untuk memiliki kepribadian dan karakter yang terhormat dan agung
karena Islam telah memuliakan mereka sebagai umat terbaik (khairu ummah). Dia berseru
kepada umat Islam,
Bangkitlah, ciptakan dunia baru
Bungkus dirimu dalam api, dan jadilah
seorang Ibrahim
Jangan mau tunduk kepada apapun kecuali
Kebenaran
Ia akan menjadikanmu seekor singa jantan
Seruan
kebangkitan Islam yang disuarakan oleh Muhammad Iqbal (1873-1938) melalui
puisi-puisnya adalah upayanya membangunkan kesadaran kaum Muslimin untuk
memiliki jati diri dan identitas keislaman agar potensi-potensi kemanusiaan
mereka berkembang. Puisi Iqbal merupakan
manifestasi pemikiran filosofisnya yang mendesak individu-individu Muslim untuk
merekonstruksi diri agar sejalan dengan amanah Tuhan sebagai khalifahNya di
muka bumi. Murtadha Muthahhari (1919-1979) menyebutkan bahwa inti pemikiran
Iqbal adalah ‘penyadaran diri’. Tetapi konsep ‘diri’ yang disasar iqbal tak
terbatas hanya pada level individu tetapi juga meliputi diri umat karena sebuah
komunitas serupa dengan individu yang memiliki ruh dan kepribadian. Menurut Iqbal, kaum Muslimin
terlarang untuk menjadi umat pembeo, pengekor, peniru yang tak kreatif, dan
lemah tak berdaya menghadapi gempuran sistem nilai-nilai asing yang
menggerogoti keIslaman dan kemanusiaan mereka. Dengan lantang Iqbal berseru,
Jangan hinakan pribadimu dengan imitasi
Bangunlah, hai kau yang asing terhadap
rahasia kehidupan
Nyalakan api yang tersembunyi dalam
debumu sendiri
Wujudkan dalam dirimu sifat-sifat Tuhan
Maka di
dalam makalah yang sederhana ini, akan mencoba memberikan gambaran pendapat
Mohammad Iqbal tentang Filsafatnya yang berkaitan dengan eksistensiliasme.
II.
Biografi
Muhammad Iqbal
Iqbal
dilahirkan di Sialkot-India (suatu kota tua bersejarah di perbatasan Punjab
Barat dan Kashmir) pada tanggal 22 Februari 1873/ 2 Dhulhijjah 1289[2] dan wafat ketika fajar 21
April 1938, dalam usia 60 tahun menurut kalender Masehi, atau 63 tahun menurut kalender
Hijri. Ia terlahir dari keluarga miskin, tetapi berkat bantuan beasiswa yang
diperlolehnya dari sekolah menengah dan perguruan tinggi, ia mendapatkan
pendidikan yang bagus. Setelah pendidikan dasarnya selesai di Sialkot ia masuk
Government College (sekolah tinggi pemerintah) Lahore. Iqbal menjadi murid
kesayangan dari Sir Thomas Arnold. Iqbal lulus pada tahun 1897 dan
memperoleh beasiswa serta dua medali emas karena baiknya bahasa inggris dan
arab, dan pada tahun 1909 ia mendapatkan gelar M.A dalam bidang filsafat.[3]
Ia lahir dari
kalangan keluarga yang taat beribadah sehingga sejak masa kecilnya telah
mendapatkan bimbingan langsung dari sang ayah Syekh Mohammad Noor dan Muhammad
Rafiq kakeknya.[4] Dan
Iqbal dimasukkan oleh ayahnya ke Scotch Mission College di Sialkot agar ia
mendapatkan bimbingan dari Maulawi Mir Hasan teman ayahnya yang ahli bahasa
Persia dan Arab. Pendidikan dasar sampai tingkat menengah ia selesaikan di
Sialkot untuk kemudian melanjutkan ke Perguruan Tinggi di Lahore (salah satu
kota di India yang menjadi pusat kebudayaan , pengetahuan, dan seni) di tahun
1895 di Lahore inila dia bertemu dengan Sir Thomas Arnold, pada tahun 1905 ia
studi di Cambridge-Inggris, ia berguru pada R.A Nicholson, seorang spesialis
dalam sufisme, dan seorang Neo-Hegelian, yaitu John M.E. Mc Taggart, dan
terakhir di Munich-Jerman ia menyelesaikan doktornya pada tahun 1908 dengan
mengajukan tesis dengan judul The Development Of
Metaphysics in Persia disertasi ini ia persembahkan kepada gurunya Sir Thomas
Arnold. Sekembalinya dari Eropa tahun 1909 ia diangkat menjadi Guru
Besar di Lahore dan sempat menjadi pengacara.[5]
Pada tahun 1922
seorang wartawan Inggris mengusulkan kepada pemerintahnya untuk member gelar Sir
kepada Iqbal. Iqbalpun mendapat undangan penguasa Inggris untuk pertama
kalinya. Mula-mula ia menolak undangan itu, tetapi ata dorongan sahabatnya,
Mirza Jalaluddin, akhirnya ia memenuhi. Gelar Sir ia terima dengan syarat gurunya, Mir Hasan,
yang ahli tentang sastra Arab dan sastra Persia juga mendapat gelar Shams
al-Ulama. Sebetulnya gurunya gurunya itu tidak begitu terkenal dan patut
diberi gelar demikian, namun Iqbal tetap bersikeras dengan syarat yang ia
ajukan. Akhirnya syaratnya itu diterima oleh penguasa Inggris.[6]
Saat-saat
Pakistan masih memerlukan karya-karyanya, pada tahun 1935 istrinya meninggal
dunia. Musibah ini membekas sangat mendalam dan membawa kesedihan yang
berlarut-larut kepada Iqbal. Dan berbagai penyakitpupun menimpa Iqbal sehingga
fisiknya semakin lemah. Sungguhpun demikian, pikiran dan semangat Iqbal tidak
pernah mengenal lelah. Ia tiada henti-hentinya mengubah sajak-sajak dan terus
menuliskan pemikiran-pemikirannya. Pada tahun 1938 sakitnya bertambah parah, ia
merasa ajalnya telah dekat, namun Iqbal masih menyempatkan diri berpesan kepada
sahabat-sahabatnya.[7]
Kukatakan
kepadamu tanda seorang Mu’min
Bila
maut datang, akan merekah senyum di bibir.
Akhirnya Sebagai
seorang pemikir, tentu tidak dapat sepenuhnya dikatakan bahwa
gagasan-gagasannya atau pemikirannya tanpa dipengaruhi oleh pemikir-pemikir
sebelumnya. Iqbal hidup pada masa kekuasaan kolonial Inggris. Pada masa ini
pemikiran kaum muslimin di anak benua India sangat dipengaruhi oleh seorang
tokoh religius yaitu Syah Waliyullah Ad-Dahlawi[8] dan Sayyid Ahmad Khan.[9] Keduanya adalah sebagai
para pemikir muslim pertama yang menyadari bahwa kaum muslimin tengah
menghadapi zaman modern yang didalamnya pemahaman Islam mendapat tantangan
serius dari Inggris. Terlebih ketika Dinasti Mughal terakhir di India ini
mengalami kekalahan saat melawan Inggris pada tahun 1857, juga sangat
mempengaruhi 41 tahun kekuasaan Imperium Inggris[10] dan bahkan pada tahun
1858 British East India Company
dihapus dan Raja Inggris bertanggungjawab atas pemerintah imperium India.[11]
Adapun
karya-karya Iqbal diantaranya adalah:
‘Ilm
al-Iqtis{a>d (1903), Devlopment
of Metaphyiscs in Persia (1908), Islam as Moral and Political Ideal (1909),
Asrar-i-Khudi (Rahasia-rahasia Diri/ Rahasia Pribadi) ; (1915), Rumuz-i-Bekhudi (Rahasia-rahasia
Peniadaan Diri ) ; (1918), Payam-i-Mashriq (Pesan
Dari Timur) ; (1923), Bang-i-dara (Genta Lonceng/ Seruan dari Perjalanan)
; (1924), Self in the Light of Relativy Speeches
and Statements of Iqbal (1925), Zaboor-i-'Ajam (Taman Rahasia Baru/
Kidung Persia) ; (1927), Khusal
Khan Khattak (1928), A Plea Deeper Study of Muslim Scientist (1929),
Presidential Address to the All-India Muslim Leaque (1930), Javid Nama (Kitab
Keabadian) ; (1932), Lectures on the
Reconstruction of Religius Thought in Islam (1934), Letter of Iqbal to Jinnah (1934),
Bal-i-Jibril (Sayap Jibril) ;
(1935), Pas Cheh Bayad Kard Aye Aqwam-i-Sharq (Apakah Yang Akan Kau Lakukan Wahai Rakyat Timur?) ; (1936), Musafir Nama/ Mathnawi Musafir (1936), Zarb-i-Kalim (Pukulan Tongkat Nabi Musa) ; (1936), Armughan-i-Hejaz (Hadiah Dari Hijaz) ; (1938), dan A Contibution to the History of Muslim Philosopy.[12]
(1935), Pas Cheh Bayad Kard Aye Aqwam-i-Sharq (Apakah Yang Akan Kau Lakukan Wahai Rakyat Timur?) ; (1936), Musafir Nama/ Mathnawi Musafir (1936), Zarb-i-Kalim (Pukulan Tongkat Nabi Musa) ; (1936), Armughan-i-Hejaz (Hadiah Dari Hijaz) ; (1938), dan A Contibution to the History of Muslim Philosopy.[12]
III.
Filsafat
Iqbal
Menurut Dr.
Syed Zafrullah Hasan dalam pengantar buku Metafisika Iqbal yang
ditulis oleh Dr. Ishrat Hasan Enver, Iqbal memiliki beberapa pemikiran yang
fundamental yaitu intuisi, diri, dunia dan Tuhan. Baginya Iqbal sangat
berpengaruh di India bahkan pemikiran Muslim India dewasa ini tidak akan dapat
dicapai tanpa mengkaji ide-idenya secara mendalam.[13]
Namun dalam
tataran praktek, Iqbal secara konkrit, yang diketahui dan difahami oleh
masyarakat dunia dengan bukti berupa literature-literatur yang beredar luas,
justru dia adalah sebagai negarawan, filosof dan sastrawan. Hal ini tidak
sepenuhnya keliru karena memang gerakan-gerakan dan karya-karyanya mencerminkan
hal itu. Dan jika dikaji, pemikiran-pemikirannya yang fundamental (intuisi,
diri, dunia dan Tuhan) itulah yang menggerakkan dirinya untuk berperan di India
pada khususnya dan dibelahan dunia timur ataupun barat pada umumnya baik
sebagai negarawan maupun sebagai agamawan. Karena itulah ia disebut sebagai Tokoh Multidimensional.[14]
Dengan latar
belakang yang cukup unik di atas penulis dalam makalah ini akan memaparkan
gagasan-gagasan Iqbal yang berkaitan dengan pemikiran filsafatnya sub bahasan
eksistensialisme dalam tiga hal yaitu: Ego dan Khudi, Ketuhanan, Insan Kamil.
3.1. Ego dan Khudi
Khudi dalam bahasa
Parsi berarti pribadi.[15]
Yaitu pribadi-pribadi yang sempurna. Sedangkan yang dimaksud Iqbal di sini adalah
usaha menjadikan diri Individu yang selalu di liputi sifat-sifat Tuhan yang
sempurna. Ini terlihat ketika Iqbal melukiskan kejayaan pribadi dan jalan hidup
nabi Muhammad. Yang mana dalam tafsir sajaknya bahwa untuk perkembangan
sewajarnya dari setiap muslim dirindukannya suatui masyarakat menurutr acuan
Islam, dan setiap muslim yang berusaha akan menjadikan dirinya Individu yang
sempurna turut membina kerajaan Islam dibumi ini.
Syarat-syarat untuk
masyarakat Islam itu dilukiskan Iqbal dalam kumpulan syairnya yang kedua,
yakni: Rumuz -i-bekhudi, yang diterbitkan sesudah Asrar –i-khudi. Dalam buku
kumpulan syair Rumuz –i-bekhudi itu Iqbal melukiskan bahwa orang yang dapat
menafikan dirinya sendiri dalam masyarakat, membayangkan yang silam dan yang
akan datang sebagai suatu satuan di dalam cermin, dapatlah dia mengatasi sang
ajal dan masuk kedalam hidup ke Islaman yang bersifat abadi dan tidak terbatas.
Diantara acara-acara terpenting yang abadi dan tak terbatas. Diantara
acara-acara terpenting yang didendangkan Iqbal ialah: asal-usul masyarakat,
pemimpinan Tuhan pada manusia dengan perantaraan para nabi. Pembentukan pusat
–pusat hidup kolektif dan nilai sejarah sebagai faktor penting untuk menetapkan
tanda tersendiri dalam sesuatu bangsa.[16]
Khudi yakni ego yang
hendak menangkap Ego yang besar oleh kian membulatnya dirinya sendiri. Pribadi
bukanlah lagi ada dalam waktu, tetapi waktu sendiri sudah menjadi dinamisme
pribadi. Pribadi atau khudi itu ialah action ialah hidup dan hidup ialah pribadi.[17]
Tuhan menjelmakan
sifat-sifatnya bukanlah di alam ini dengan sempurna tetapi pada para pribadi
sehingga mendekati Tuhan berarti menumbuhkan sifat-sifatNya dalam diri, yang
sebenarnya sesuai dengan hadist rasullah s.a.w: Takhallaqu bi akhlaqi’llah,
tumbuhkanlah dalam dirimu sifat-sifat Allah. Jadi mencari Tuhan bukanlah dengan
jalan merendah-rendahkan diri atau meminta-minta, tetapi dengan himmah tenaga
yang berkobar-kobar mejelmakan sifat-sifat uluhiyyah (ketuhanan) dalam diri
kita dan kepada masyarakat ramai. Tegasnya mendekati Tuhan ialah menyempurnakan
diri pribadi insan, memperkuat iradah atau kemauannya.[18]
Maka menurut Iqbal
pribadi sejati adalah bukan yang menguasai alam benda tetapi pribadi yang
dilingkupi Tuhan kedalam khuduinya sendiri. Maka sifat dan pikiran pribadi atau
khudi ialah:
1.
Tidak terikat oleh
ruang sebagaimana halnya dengan tubuh.
2.
Hanyalah lanjutan
masa mengenai kepribadian
Sedangkan cita
tentang pribadi itu memberikan kepada kita ukuran yang sebenarnya,
diselesaikannya soal buruk dan baik. Hal-hal yang memperkuat pribadi bagi Iqbal
Ialah:
1.
‘Isyq-o-muhabbat,
yakni cinta kasih.
2.
Faqr yang artinya
sikap tak peduli terhadap apa yang disediakan oleh dunia ini, sebab
bercita-cita yang lebih agung lagi.
3.
Keberanian
4.
Sikap tenggang rasa
(tolerance)
5.
Kasb-i-halal yang
sebaik-baiknya terjalin dengan hidup dengan usaha dan nafkah yang sah.
3.2. Ketuhanan
Filsafat Iqbal
tentang tuhan dapat dibagi dalam tiga fase. Adapun dasar yang dipakai dalam
pengelompokan tersebut adalah keaslian dan keterpengaruhan pemikiran Iqbal
tersebut mengenai konsepsi Tuhan. Fase pertama berlangsung mulai dari tahun
1901M hingga kira-kira tahun 1908M, pada tahap ini Iqbal cenderung sebagai
mistikus-panteistik. Hal itu terlihat pada kekagumannya pada konsepsi mistik
yang berkembang di wilayah Persia, lewat tokoh-tokoh tasawuf falsafi, seperti
Ibnu ‘arabi. Puncak kekagumannya itu tergambar dalam disertasi doktornya,
berjudul Development of Metaphysics in Persia: a Constribution to the
History of Muslim Philosophy. Pada fase ini Iqbal meyakini Tuhan sebagai
suatu Keindahan yang abadi, keberadaan-Nya tanpa tergantung pada sesuatu dan mendahului
segala sesuatu bahkan menampakkan diri dalam semuanya itu. Ia menyatakan
dirinya di langit dan di bumi, di matahari dan di bulan, pada kerlap kerlip
bintang –bintang dan jatuhnya embun di tanah dan di laut, di api dan nyalanya,
di batu-batu dan pepohonan, pada burung-burung dan binatang buas, di wewangian
dan nyanyian, di semua tempat dan keadaan.
Demikianlah, Tuhan
sebagai keindahan Abadi adalah penyebab gerak segala sesuatu. Kekuatan pada
benda-benda, daya tumbuh pada tanaman, naluri pada binatang buas dan kemauan
pada manusia hanyalah sekedar bentuk daya tarik ini, cinta untuk Tuhan ini.
Karena itu, Keindahan Abadi adalah sumber, essensi dan ideal segala sesuatu.
Tuhan bersifat universal dan melingkupi segalanya seperti lautan, dan individu adalah
seperti halnya setetes air. Demikianlah, Tuhan adalah seperti matahari dan
individu adalah seperti lilin, dan nyala lilin hilang di tengah cahaya. Seperti
balon atau bunga api, kehidupan ini bersifat sementara tidak hanya itu bahkan
keseluruhan wujud atau eksistensi adalah suatu yang fana.[21]
Secara umum telah
dikemukakan tentang kosepsi Iqbal tentang Tuhan pada fase pertama seperti
termuat diatas. Pemikiran seperti itu tidak sulit dicari sumbernya, pada
dasarnya pemikiran seperti itu bersifat platonis. Plato juga menganggap Tuhan
sebagai Keindahan yang Abadi, sebagai alam universal yang medahului segala
sesuatu serta terwujud pada kesemuanya itu sebagai bentuk. Plato juga
menganggap, Tuhan sebagai ideal tujuan manusia. Ia juga memisahkan cinta dari
pengertian seks dan memberinya makna universal, konsep platonis ini sebagaimana
yang diungkapkan oleh Platonis diambil alih oleh kaum skolastik Muslim awal dan
dicangkokkan ke dalam pantheisme oleh para mistiukus patheistis, menurut Iqbal suatu tradisi lama dalam puisi,
parsi dan urdu ditambah lagi lewat studinya atas puisi-puisi romantis Inggris.
Sehingga dapat dikatakan konsepsi Iqbal mengenai Tuhan pada fase pertama ini
tidak asli. Secara sederhana ia menunjukkan kepada kita apa yang ia terima
sebagai warisan sejarah lewat kata-kata yang Indah. Ia menjadikan ide keTuhanan
ini sebagai bahan puisi-puisinya dengan berbagai cara baru.
Masa kedua
perkembangan pemikiran Iqbal bermula kira-kira tahun 1908-1920 M. kunci untuk
memahami masa ini adalah perubahan sikap Iqbal kearah perbedaan yang ia tarik
antara keindahan sebagaimana tampak pada segala sesuatu,[22]
disatu pihak dan cinta kepada keindahan dipihak lain. Sebagaimana telah dicatat
bahwa Iqbal menyebut keindahan sebagai sesuatu yang kekal dan efisien serta kausalitas
akhir dari segala cinta, gerakan dan keinginan. Tetapi pada masa kedua, sikap
ini mengalami perubahan.
Pertama, suatu
kesangsian dan kemudian berubah menjadi semacam pesimisme yang menyelinap ke
dalam dirinya mengenai sikap kekal dari keindahan dan efisiensinya serta
kausalitas. Pada fase ini pemikirannya dibimbing oleh konsep tentang
pribadi(self) yang dianggap sebagai pusat dinamis dari hasrat, upaya, aspirasi,
usaha ,keputusan ,kekuatan dan aksi. Pribadi tidak maujud dalam waktu,
melainkan waktulah yang merupakan dinamisme dari pribadi. Pribadi adalah aksi
yang seperti pedang merambah jalannya dengan menaklukkan kesulitan, halangan
dan rintangan. Waktu sebagai aksi adalah hidup dan hidup adalah pribadi karena
itu waktu hidup dan pribadi ketiganya dibandingkan dengan pedang.[23]
Yang disebut dengan
dunia luar dengan segala macam kekayaannya yang menggairahkan termasuk ruang
dan waktu serial dan apa yang disebut dengan dunia perasaan, ide-ide dan
ideal-ideal keduanya adalah ciptaan pribadi mengikuti fichte dan ward, Iqbal
menyatakan kepada kita bahwa pribadi menuntut dari dirinya sendiri sesuatu yang
bukan pribadi demi kesempurnaannya sendiri. Dunia yang terindera adalah ciptaan
pribadi. Karena itu segala keindahan alam merupakan bentukan hasrat-hasrat kita
sendiri. Hasrat menciptakan mereka,bukannya mereka yang mempunyai hasrat.[24]
Tuhan sang hahekat
terakhir adalah pribadi mutlak, ego tertinggi. Ia tidak lagi dianggap sebagai
keindahan luar. Tuhan kini dianggap sebagai kemauan abadi dan keindahan disusutkan
menjadi suatu sifat Tuhan, menjadi sebutan yangs ekarang mencakup nilai-nilai
estetisdan nilai-nilai moral sekaligus. Disamping keindahan Tuhan, pada tahap
ini keesaan tampak menunjukkan nilai pragmatis yang tinggi karena ia memberi
kesatuan tujuan dan kekuatan pada individu, bangsa-bangsa dan manusia sebagai
keseluruhan kekuatan yang mengikat, menciptakan hasrat yang tak kunjung padam,
harapan dan aspirasi dan menghilangkan semua rasa gentar dan takut kepada yang
bukan Tuhan.[25]
Tuhan menyatakan
dirinya bukan dalam dunia yang indera melainkan dalam pribadi terbatas, dan
karenma itu usaha mendekatkan diri padanya hanya akandimungkinkan lewat
pribadi. Dengan demikian mencari tuhan bersifat kondisional terhadap pencarian
diri sendiri. Demikian pula tuhan tidak bisa diperoleh dengan meminta-minta dan
memohon semata-mata karena hal seperti itu menunjukkan kelemahan dan ketidak
berdayaan. Mendekati tuhan menurutnya harus konsisten dengan kekuatan dan
kemauan sendiri. Ia harus menangkap Dia dengan cara sama seperti seorang
pemburu menangkap buruannya. Tetapi Tuhan juga menginginkan diriNya tertangkap.
Ia mencari manusia seperti manusia mencari Dia. Dengan menemukan Tuhan
seseorang tidak boleh membiarkan dirinya terserap ke dalam Tuhan dan menjadi
tiada. Sebaliknya manusia harus menyerap Tuhan ke dalam dirinya, menyerap
sebanyak mungkin sifat-sifatNya dan kemungkinan ini tidak terbatas. Dengan
menyerap tuhan kedalam diri maka tumbuhlah ego. Ketika ego tumbuh menjadi super
ego, ia naik ketingkat wakil Tuhan.[26]
Singkat kata pada fase ini Iqbal mulai menyangsikan tentang sifat kekal dari
keindahan dan efisiensinya, serta kausalitasnya akhirnya. Sebaliknya tumbuh
keyakinan akan keabadian cinta, hasrat, dan upaya atau gerak. Kondisi ini
tergambar dalam karyanya, Haqiqat-i Husna (Hakikat Keindahan). Pada
tahap ini Iqbal tertarik kepada Rumi yang dijadikannya sebagai pembimbing
rohaninya. Pada tahap ini, Tuhan bukan lagi dianggap sebagai Keindahan Luar,
tetapi sebagai Kemauan Abadi, sementara keindahan hanyalah sebagai sifat Tuhan di
samping ke Esaan Tuhan. Karena itu, Tuhan menjadi asas rohaniah tertinggi dari
segala kehidupan (the ultimate spiritual basis of all life). Tuhan
menyatakan diriNya bukan dalam dunia yang terindera, tetapi dalam pribadi
terbatas. Karena itu usaha mendekatkan diri kepada-Nya hanya dimungkinkan lewat
pribadi. Dengan menemukan Tuhan, seseorang tidak boleh membiarkan dirinya
terserap ke dalam Tuhan dan menjadi tiada. Sebaliknya, manusia harus menyerap
Tuhan ke dalam dirinya, menyerap sebanyak mungkin sifat-sifatNya, dan
kemungkinan ini tidak terbatas. Dengan menyerap Tuhan ke dalam diri, tumbuhlah
ego. Ketika ego tumbuh menjadi super ego, ia naik ke tingkat wakil Tuhan.
Masa ketiga
perkembangan mental dan pemikiran Iqbal dimulai sejak tahun 1920 hingga tahun
1938 dimana tahun wafatnya Iqbal. Masa ketiga ini dianggap sebagai masa
kedewasaan dari pemikiran Iqbal itu sendiri. Ia mengumpulkan unsur-unsur dari
sintesisnya dan kini menghimpunnya dalam suatu sistem yang menyeluruh. Menurutnya
Tuhan adalah hakikat sebagai suatu keseluruhan dan hakikat sebagai suatu
keseluruhan pada dasarnya bersifat spiritual dalam artian suatu Individu dan
suatu ego. Ia dianggap sebagai ego karena seperti manusia, Dia adalah suatu
prinsip kesatuan yang mengorganisasi, suatu paduan yang terikat satu sama lain
yang berpangkal pada fitrah kehidupan organisme-Nya untuk suatu tujuan
konstruktif. Ia adalah ego karena menanggapi refleksi kita. Karena ujian yang
paling nyata pada suatu pribadi adalah apakah ia memberi tanggapan kepada
panggilan pribadi yang lain.[27]
Tepatnya, Dia bersifat mutlak karena Dia meliputi segalanya, dan tidak ada
sesuatu pun diluar Dia.
Ego mutlak tidaklah
statis seperti alam semesta sebagaimana dalam pandangan Aristoteles. Dia adalah
jiwa kreatif, kemauan dinamis atau tenaga hidup dan karena tidak ada sesuatu
pun selain Dia yang bisa membatasiNya, maka sepenuhnya Dia merupakan jiwa
kreatif yang bebas. Dia juga tidak terbatas. Tetapi sifat tidak terbatasNya
bukanlah dalam arti keruangan, karena ketidak terbatasan ruang tidak bersifat
mutlak. Ketidak terbatasan Nya bersifat intensif bukan ekstensif dan mengandung
kemungkinan aktivitas kreatif yang tidak terbatas. Tenaga hidup yang bebas
dengan kemungkinan tak terbatas mempunyai arti bahwa Dia Maha Kuasa.Dengan
demikian Ego terakhir adalah tenaga yang maha kuasa, gerak kedepan yang
merdeka,suatu gerak kreatif.[28]
3.3. Insan Kamil
Manusia adalah
misteri terbesar yang diciptakan Tuhan di dunia, padanya Tuhan tidak hanya
membentuk sesuai dengan citra-Nya, akan tetapi sudah menjadi kehendak-Nya bahwa
manusia akan menjadi mitra kerja-Nya di dunia. Pengertian manusia adalah
pemahaman secara menyeluruh menyangkut aspek ruhani dan jasmani serta tidak
dapat dipisah-pisah antara satu dan lainnya, karena keduanya bersama-sama ada
dan merupakan suatu keutuhan dan keseluruhan baru, yang merupakan diri yang
selalu hidup, serba lain dari pada hidup raga saja atau jiwa saja dalam dirinya
sendiri, dan penyatuan antara keduanya merupakan kekuasaan Tuhan. Allah, dalam
al-Qur’an secara sederhana menggambarkan keunikan serta kelebihan manusia
daripada ciptaan Tuhan yang lain. Hubungan antara pikiran dan tindakan yang
membentuk kesatuan kesadaran manusia yang menjadi pusat kepribadiannya
merupakan ciri khas individualitas manusia. Hal inilah yang menjadi ukuran
kesempurnaan manusia sebagai khalifah Allah di bumi.[29]
Dalam sejarah
pemikiran, baik dalam kajian filsafat manusia maupun tasawuf manusia merupakan
kajian yang selalu menarik untuk di kaji, dari hal ini kajian manusia ideal
dalam pandangan Iqbal merupakan hal yang tidak dapat di hindari dalam memandang
manusia baik dari perspektif filsafat, tasawuf, dan agama. Manusia ideal dalam
pandangan Iqbal merupakan manusia yang mempunyai kesucian ruhani yang mampu
menyerap sifat-sifat Tuhan ke dalam dirinya (ego kecil), sehingga dengan
menyerap sifat-sifat Tuhan ke dalam dirinya, di harapkan mampu mengantarkan
dirinya pada kualitas manusia sempurna (insan kamil). Disamping itu pula
manusia harus mampu mewujudkan dan mengaplikasikan sifat-sifat Tuhan ke dalam kehidupannya.
Di sinilah Iqbal memandang manusia ideal merupakan puncak dari segala kehidupan
yang di inginkan oleh Tuhan. Dengan mengemban sebuah amanah sehingga pantas
manusia mendapatkan gelar sebagai khalifah Allah di bumi.[30]
Manusia sebagai
individualitas yang unik yang memungkinkan seseorang untuk memikul beban orang
lain, dan menamainya hanya berkenaan dengan apa yang telah diusahakan, karena
Qur’an diarahkan untuk menolak ide tentang penebusan. Apapun pandangan kita
tentang diri perasaan, identitas diri, jiwa, kemauan hanya dapat diuji dengan
peraturan-peraturan pikiran yang di dalam cirinya bersifat hubungan, dan “semua
hubungan melibatkan pertentangan”.[31]
Dengan mudah
kita dapat mengakui bahwa ego, dalam keterbatasannya, tidak sempurna sebagai
kesatuan kehidupan. Ego mengungkap ego itu sendiri sebagai kesatuan dari apa
yang kita namakan keadan mental. Keadaan mental tidak berada dalam tempat yang
saling terpisah. Keadaan-keadaan mental saling berarti dan saling berkaitan,
atau katakanlah peristiwa-peristiwa merupakan jenis kesatuan yang khusus.
Secara mendasar hal ini berbeda dengan kesatuan material; karena kesatuan
material dapat berada pada tempat yang saling terpisah. Kesatuan mental
benar-benar unik. Kita tidak dapat mengatakan bahwa salah satu kepercayaan
diletakkan di sebelah kanan atau sebelah kiri kepercayaan saya yang lain. Oleh
karena itu ego tidak terbatas pada ruang, sedang tubuh terbatas oleh ruang.
Peristiwa fisik dan mental berada dalam waktu, tetapi waktu ego secara mendasar
berbeda dengan waktu peristiwa fisik. Durasi waktu fisik dibentangkan dalam
ruang sebagai fakta sekarang; durasi ego dikonsentrasikan di dalamnya dan
dicakup dengan masa sekarang dan masa depannya dengan cara yang unik.[32]
Ciri penting
yang lain dari kesatuan ego merupakan privasinya yang mendasar yang mengungkap
keunikan setiap ego. Untuk mencapai kesimpulan yang pasti, semua premis
silogisme harus diyakini oleh seseorang dan akal yang sama. Jika saya percaya
kata-kata “ semua laki-laki adalah makhluk hidup” dan akal yang lain percaya
kata-kata “Socrates adalah seorang laki-laki”, tidak ada kesimpulan yang
mungkin. Hanya memungkinkan jika saya percaya kedua dalil tesebut. Lagi, hasrat
saya terhadap sesuatu yang pasti pada dasarnya milik saya.[33]
Bentuk lain
pembuatan manusia sebelumnya “ mengembangkan dasar organisme fisik – kumpulan
sub ego yang lebih mendalam yang bertindak dalam diri saya, dan membiarkan saya
untuk membangun kesatuan pengalaman yang sistematis. Sesuatu yang lain di luar
saya dikira memiliki sifat-sifat tertentu yang dinamakan dasar, mengacu pada sensasi tertentu dalam
diri saya, dan saya membenarkan kepercayaan saya tentang sifat-sifat tersebut
dengan dasar penyebab harus memiliki kemiripan dengan pengaruhnya. Tetapi tidak
perlu ada kemiripan antara sebab dan pengaruhnya.[34]
Manusia punya
aspek ruang tetapi ini bukan aspek manusia saja. Ada aspek alain selain aspek
manusia, yaitu penilaian, karakter kesatuan dari pengalaman yang bertujuan, dan
pencarian kebenaran yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan dari studinya, serta
pengertian yang memerlukan kategori-kategori lain yang disiratkan oleh ilmu
pengetahuan.[35]
Manusia
Asamu hidupku! Seluruh kehidupanmu, seperti jam waktu, akan selalu baru, dan
akan terus berlalu. Di dalam lingkaran ini, engkau hanyalah sebutir pasir, akan
terus bersinar tanpa kesudahan!”
IV.
Penutup
Iqbal adalah
seorang intelektualis asal Pakistan telah melahirkan pemikiran dan peradaban
besar bagi generasi setelahnya . Iqbal merupakan sosok pemikir multi disiplin.
Ia adalah seorang sastrawan, negarawan, ahli hukum, filosof, pendidik dan
kritikus seni. Menilai kepiawaiannya yang multidisiplin itu, pak Natsir
mengatakan "tentulah sukar bagi kita untuk melukiskan tiap-tiap aspek
kepribadian Iqbal. Jiwanya yang piawai tidak saja menakjubkan tetapi juga
jarang ditemui".[36]
Islam sebagai
way of life yang lengkap mengatur kehidupan manusia, ditantang untuk bisa
mengantisipasi dan mengarahkan gerak perubahan tersebut agar sesuai dengan
kehendak-Nya. Oleh sebab itu hukum Islam dihadapkan kepada masalah signifikan,
yaitu sanggupkah hukum islam memberi jawaban yang cermat dan akurat dalam
mengantisipasi gerak perubahan ini? Dengan tepat Iqbal menjawab “bisa kalau
umat Islam memahami hukum Islam seperti cara berfikir Umar bin Khattab”.
Akhirnya,
tidaklah lengkap rasanya menulis tentang Iqbal tanpa menutupnya dengan salah
satu syair[37]nya berikut ini:
Apakah kamu
berada dalam tingkat "kehidupan", "kematian", atau
"kematian dalam kehidupan"?
Memanggil tiga saksi
untuk memberitahu dimana tempat "perhentianmu".
Saksi
pertama adalah kesadaran batinmu sendiri-
Lihat
dirimu sendiri dengan cahayamu sendiri.
Saksi
kedua adalah kesadaran ego yang lain-
Lihat
dirimu, lalu sinar ego yang lain daripada milikmu
Saksi
ketiga adalah kesadaran Tuhan-
Lihat
dirimu, lalu dengan cahaya Tuhan,
Jika
kamu berdiri tidak bergerak di depan cahaya ini,
Anggaplah
dirimu sendiri seperti hidup dan abadi layaknya Tuhan!
Bahwa
manusia sendiri adalah sejati yang berani-
Berani
untuk melihat Tuhan berhadapan muka!
Apakah
"Mi'raj"? Hanya pencarian seorang saksi
Yang
akhirnya dapat menegaskan realitasmu
Seorang
saksi yang dengan kesaksiannya membuatmu abadi.
Tak
seorangpun dapat berdiri tanpa bergerak oleh keberadaannya;
Dan
dia yang dapat, sesungguhnya, dia emas murni.
Apakah
engkau hanya butiran debu semata?
Ketatkan
simpul egomu;
Dan
pegang cepat makhlukmu yang kecil!
Betapa
cemerlangnya memancarkan ego kita
Dan
menguji kilauan ini dari keberadaan Matahari!
Bersihkan
ragamu yang lama;
Dan
membangun makhluk baru.
Suatu
makhluk yang sesungguhnya;
Atau
egomu hanyalah gumpalan asap semata![38]
[1] Miss Luce-Claude Maitre, Introduction to the Thought
of Iqbal, terj. Djohan Effendi, (Bandung : Mizan, 1981), 13.
[2] Herry Mohammad (dkk), Tokoh-Tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20, cet
I, (Jakarta : Gema Insani,
2006), 237.
[3] A Mukti Ali, Alam Pikiran Islam Modern di India dan
Pakistan, , Cet III, (Bandung: Mizan, 1998) 174. Lihat
juga: Azzumardi Azra dan Syafi’i Ma’arif, Ensiklopedi Tokoh
Islam dari Abu Bakr sampai Natsir dan Qardhawi (Bandung: Mizan,
2003), 256. Lihat juga: A.G. Pringgodigdo, Ensiklopedi Umum, (Yogyakarya:
Kanisius, 1977), 473.
[4] Herry Mohammad (dkk), Tokoh-Tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20,
237.
[5] A.G. Pringgodigdo, Ensiklopedi Umum, 4.
[6] Hasyimsyah Nasution, Filsafat
Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999), 183-184.
[7] ‘Abdul Wahhab ‘Azzam, Iqbal:
Siratuh wa Falsafatuh wa Shi’ruh, terj. Ahmad Rofi’ Usman, (Bandung :
Pustaka, 1985), 40.
[8] Ia adalah Ahmad bin Abdurrahim
bin Wajiduddin bin Mu'azzam bin Ahmad bin Muhammad bin Qawanuddin al-Dahlan. Ia
lahir di Kota dekat Delhi pada tanggal 21 Pebruari 1703 M/ 4 Syawal 1114 H dan
wafat pada tanggal 29 Muharram 1176 H/ 10 gustus 1762 dalam usia 61 tahun.
Karya tulisnya yang monumental adalah Hujjatullah
al-Balighah. Cyril Glase, Ensiklopedi Islam, cet III
(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002), 185.
[9] Ia adalah seorang penulis,
pemikir dan aktivis politik modernis Islam India. Lahir di Delhi tahun 1817 M.
Dimasa pemberontakan tahun 1857 ia berusaha mencegah kekerasan yang karenanya
banyak orang-orang Inggris tertolong dari pembunuhan. Karena jasanya itu
Inggris memberikan gelar kepadanya dengan sebutan Sir.
Selanjutnya ia menggunakan kesempatan itu untuk menjalin hubungan
baik dengan Inggris tapi semata-mata untuk kepentingan umat Islam India, karena
baginya dengan jalan itulah umat Islam dapat tertolong. Dan akhirnya setelah
kejadian tahun 1857 itu ia menjalankan tiga proyek besar yaitu: memprakarsai
dialog untuk menciptakan saling pegertian antara kaum muslim dan Kristen,
mendirikan organisasi ilmiah yang membantu kaum muslim untuk memahami kunci
keberhasilan Barat dan menganalisis secara objektif penyebab pemberontakan
1857. (Didin Saefuddin, Pemikiran Modern Dan
Postmodern Islam, Jakarta, Grasindo, 2003, 367). Ia mewujudkan
cita-citanya meninggikan kaum Muslimin India dengan mendirikan perguruan Islam
dengan nama Anglo Oriental College yang
selanjutnya berkembang menjadi Universitas Muslim
Aligarh di Aligarh tempat kaum terpelajar Islam di India pada tahun
1920. A.G. Pringgodigdo, Ensiklopedi Umum,
25.
[10] Imperium Inggris (British Empire) pada puncak
kejayaannya akhir abad ke-19 dan awal abad 20 merupakan kerajaan yang terbesar
diseluruh dunia. Koloni yang pertama adalah New-Foundland (1583). Dasar-dasar
kerajaan diletakkan pada permulaan abad ke-17 dengan mendirikan British East India Company. Ibid,
446.
[11] Didin Saefuddin, Pemikiran Modern Dan Postmodern Islam,
51.
[12]Hawasi, Eksistensialisme Mohammad Iqbal, (Jakarta:
Wedatama Widya Sastra, 2003), 8-9. Lihat juga Hasyimsyah Nasution, Filsafat
Islam, 184-185.
[13] Ishrat Hasan Enver, Metafisika Iqbal, cet. I,
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), 5.
[14] Didin Saefuddin, Pemikiran Modern Dan Postmodern Islam, 44.
[15]Mohammad Iqbal, The
Reconstruction of Religious Thought in Islam, (New Delhi: Kitab Bhavan,
1981), 60-61.
[16] Muhammad Iqbal, Tajdiid al-Tafkiir al-Di<ni< Fi<
al-Isla<m, (Kairo: al-Hai’ah al-Mis{riyah al-‘A<mmah li
al-Kitab, 2010), 20-21.
[17] Mohammad Iqbal, The
Reconstruction of Religious Thought in Islam, 51.
[18] Hasyimsyah Nasution, Filsafat
Islam, 210-211.
[20] Saiyidan K.G., Iqbal’s
Educational Philosopy, terj. M.I. Soelaeman, (Bandung: Diponegoro, 1981),
125.
[21] Hasyimsyah Nasution, Filsafat
Islam, 190.
[22] Ibid, 190-191.
[23] Ibid, 194-196.
[24] Ibid.
[25] Ibid.
[26] Ibid, 191.
[27] M.M Sharif, About Iqbal and
His Thought, (Lahore: Institute of Islamic Culture, 1996), 147.
[28] Mohammad Iqbal, The
Reconstruction of Religious Thought in Islam, 80.
[29] Hasyimsyah Nasution, Filsafat
Islam, 208.
[30] Ibid.
[31] Mohammad Iqbal, The
Reconstruction of Religious Thought in Islam, 11-12.
[32] Saiyidan K.G., Iqbal’s
Educational Philosopy, 62-63.
[33] Ibid.
[35] Abdul Wahhab ‘Azzam, Iqbal:
Siratuh wa Falsafatuh wa Shi’ruh, 52.
[36] Mohammad Natsir, Capita Selekta 2, Cet II ( Jakarta:
PT Abadi dan Yayasan Kapita Selekta, 2008), 146.
[37] Syair ialah bentuk puisi lama
Indonesia: satu bait biasanya terdiri atas empat baris seperti pantun, tetapi
keempat barisnya bersajak sama. Perbedaan lain daripada pantun ialah: pantun
terdiri atas empat baris dan sudah merupakan kesatuan pikiran, sedangkan syair
belum. Syair bias berisikan kisah, ceritera, soal agama, sejarah atau ceritera
suatu peristiwa. A.G. Pringgodigdo, Ensiklopedi Umum,
1068.
[38]Allama Muhammad Iqbal, The
Reconstruction of Religious Thought in Islam, (Lahore: Iqbal Academy
Pakistan dan Institute of Islamic Culture, 1989), 157.
Daftar Pustaka
‘Azzam,
‘Abdul Wahhab, Iqbal: Siratuh wa Falsafatuh wa Shi’ruh, terj. Ahmad Rofi’
Usman, (Bandung : Pustaka, 1985).
Ali, A Mukti, Alam Pikiran Islam Modern di India dan
Pakistan, , Cet III, (Bandung: Mizan, 1998).
Azra,
Azyumardi dan Syafi’i Ma’arif, Ensiklopedi Tokoh
Islam dari Abu Bakr sampai Natsir dan Qardhawi (Bandung: Mizan,
2003).
Enver, Ishrat Hasan, Metafisika
Iqbal, cet. I, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004).
Glase, Cyril, Ensiklopedi Islam, cet
III (Jakarta: Raja Grafindo Persada,
2002).
Hawasi, Eksistensialisme
Mohammad Iqbal, (Jakarta: Wedatama Widya Sastra, 2003).
Iqbal, Allama Muhammad, The
Reconstruction of Religious Thought in Islam, (Lahore: Iqbal Academy
Pakistan dan Institute of Islamic Culture, 1989).
Iqbal, Mohammad, Asrar-i Khudi , Terj. Bahrum Rangkuti, (Jakarta:
Bulan Bintang, 1976).
_______________, The Reconstruction
of Religious Thought in Islam, (New Delhi: Kitab Bhavan, 1981).
_______________, Tajdiid al-Tafkiir al-Di<ni< Fi<
al-Isla<m, (Kairo: al-Hai’ah al-Mis{riyah al-‘A<mmah li
al-Kitab, 2010).
K.G., Saiyidan, Iqbal’s Educational
Philosopy, terj. M.I. Soelaeman, (Bandung: Diponegoro, 1981).
Maitre, Miss Luce-Claude, Introduction to the Thought of Iqbal, terj. Djohan Effendi, (Bandung : Mizan, 1981).
Mohammad, Herry (dkk), Tokoh-Tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20, cet
I, (Jakarta : Gema Insani,
2006).
Nasution, Hasyimsyah, Filsafat
Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999).
Natsir, Mohammad, Kapita Selekta 2, Cet II ( Jakarta:
PT Abadi dan Yayasan Kapita Selekta, 2008).
Pringgodigdo,A.G., Ensiklopedi Umum, (Yogyakarya:
Kanisius, 1977).
Saefuddin,
Didin, Pemikiran Modern Dan Postmodern Islam, (Jakarta,
Grasindo, 2003).
Sharif, M.M, About Iqbal and His Thought, (Lahore:
Institute of Islamic Culture, 1996).
izin kopas ya
BalasHapusizin kopas ya
BalasHapusok-buat materi filsafat Islam ya, anta fil ma'had ayyu marhalatin? jurusan apa kuliahnya
BalasHapus