Problematika
Pemikiran Islam Tentang Ketuhanan
Abstrak
Suatu
aksioma dalam ilmu filsafat ialah. Bahwa otak manusia umumnya bekerja dengan
benar, tidak sesat, otak manusia itu mempunyai kesanggupan untuk mencapai
kebenaran. Otak manusia itu pada umumnya berpendapat, bahwa Tuhan Yang Maha Esa
itu ada. Manusia berpikir, dengan penglihatan kasar terlihat, bahwa manusia dan
binatang itu jadi sendiri, yakni dari ibu dan bapak, dan ibu bapak itu jadi
dari ibu bapak pula, dan seterusnya. Andaikata betul demikian, tentu akan
sampai kepada seorang bapak yang tiada ber-ibu-bapak, dan ibu yang tiada
ber-ibu-bapak pula. Maka bagaimanakah orang itu dapat berwujud, apabila tidak
ada yang menjadikan?. Andaikatakata betul anak itu hanya dari buatan bapak dan ibu,
mengapa tidak senantiasa sebagaimana terjadi yang diinginkan? Ingin anak ,
tiada mendapat. Ingin anak perempuan, keluar laki-laki, dan seterusnya.
Kata
Kunci : aksioma,
Tuhan, Esa, Wujud.
I.
Pendahuluan
Masalah yang sedang dihadapi umat
Islam pada zaman sekarang merupakan masalah yang sangat serius. Disamping
masalah pemikiran, problem tentang ketuhanan pun menjadi tantangan yang harus
di hadapi oleh umat Islam. masalah dan problem tersebut tidak lepas dari
peranan bangsa Barat yang sangat gencar mempengaruhi pemikiran umat Islam.
berbagai bidang ilmu pengetahuan barat banyak dimasukan bahkan diaplikasikan
dalam keilmuan Islam, diantaranya tentang teologi.
Islam merupakan agama yang
mempunyai peradaban ilmu paling maju dan banyak memberikan kontribusi kepada
perkembangan ilmu pengetahuan yang ada di Barat. Dalam khazanah ilmu
pengetahuan Islam sendiri, terdapat banyak macam bidang ilmu yang merupakan
produk asli agama Islam. diantara bidang – bidang ilmu tersebut adalah Ilmu
Kalam atau istilah lain adalah teologi dan para teolog Islam biasa disebut
dengan mutakallimin atau ahli kalam. Disebut Ilmu Kalam karena ilmu ini
membahas tentang kalam atau wahyu Tuhan.
Adapun kata teologi, merupakan istilah yang
diambil dari Yunani dan terdiri dari dua kata yaitu theos yang berarti Tuhan
dan logos yang berarti ilmu. Jadi, teologi merupakan ilmu tentang Tuhan atau
ilmu ketuhanan. Adapun pokok pembahasan yang ada dalam teologi adalah Tuhan dan
segala sesuatu yang berkaitan dengan-Nya.[1]
II.
Filsafat
Ketuhanan
Filsafat Ketuhanan adalah pemikiran
tentang Tuhan dengan pendekatan akal budi, maka dipakai pendekatan yang disebut
filosofis. Bagi orang yang menganut agama tertentu (terutama agama Islam,
Kristen, Yahudi), akan menambahkan pendekatan wahyu di dalam usaha
memikirkannya. Jadi Filsafat Ketuhanan adalah pemikiran para manusia dengan
pendekatan akal budi tentang Tuhan. Usaha yang dilakukan manusia ini bukanlah
untuk menemukan Tuhan secara absolut atau mutlak, namun mencari pertimbangan
kemungkinan-kemungkinan bagi manusia untuk sampai pada kebenaran tentang Tuhan
Penelaahan tentang Allah dalam filsafat
lazimnya disebut teologi kodrati atau teodise. Hal ini bukan menyelidiki tentang
Allah sebagai obyek, namun eksistensi alam semesta, yakni makhluk yang
diciptakan, sebab Allah dipandang semata-mata sebagai kausa pertama, tetapi
bukan pada diri-Nya sendiri, Allah sebenarnya bukan materi ilmu, bukan pula
pada teodise. Jadi pemahaman Allah di dalam agama harus dipisahkan Allah dalam
filsafat. Namun pendapat ini ditolak oleh para agamawan, sebab dapat
menimbulkan kekacauan berpikir pada orang beriman. Maka ditempuhlah cara ilmiah
untuk membedakan dari teologi dengan menyejajarkan filsafat ketuhanan dengan
filsafat lainnya (Filsafat manusia, filsafat alam dll). Maka para filsuf
mendefinisikannya sebagai usaha yang dilakukan untuk menilai dengan lebih baik,
dan secara refleksif, realitas tertinggi yang dinamakan Allah itu, ide dan
gambaran Allah melalui sekitar diri kita.[2]
III.
Aliran
Teologi dalam Islam
Beberapa aliran yang membahas tentang
teologi atau ilmu kalam dalam Islam sangat banyak, diantara aliran – aliran
tersebut adalah Khawarij, Jabbariyah, Qadariyah, Shi’ah, Murji’ah, dan Mu’tazilah.
Aliran Khawarij berpendapat bahwa mereka mensucikan Dzat Ilahiayah dan menolak
sifat – sifat Allah, maka dari itu mereka menyatakan bahwa sifat merupakan Dzat
itu sendiri.[3]Adapun
aliran Jabbariyah berpandangan bahwa mereka menolak sifat Kalam bagi Allah SWT,
karena Kalam merupakan sifat dari makhluk.[4]
Selain dua aliran tersebut ada beberapa
aliran yang lain dalam memandang masalah ketuhanan dalam Islam atau ilmu kalam.
Aliran tersebut dalah aliran Mu’tazilah yang didirikan oleh Wasil bin Atho’.
Dalam masalah ketuhanan mereka mempunyai konsep sendiri, konsep tersebut biasa
disebut dengan Al-Usul Al-Khamsah yaitu Tauhid, Al-‘Adlu, Al-Wa’du wa Al-Wa’id,
Al-Manzil baina Manzilatain dan Al-Amru bi al-Ma’ruf wa Al-Nahyu ‘An Al-Munkar.
Dalam salah satu konsepnya yaitu Tauhid, mereka berbicara banyak tentang
ketuhanan. Diantara pendapatnya yaitu الصفات
عين الذات: artinya
bahwa sifat Allah tidak terpisah dari dzat-Nya. Untuk mempertegas konsepnya
ini, Mu’tazilah menjelaskan bahwa الله
عالم بالعلم هو هو artinya Allah Maha
Mengetahui dengan ilmu-Nya, sifat ilmu adalah dzat-Nya.[5]
Banyak para ulama yang tidak setuju
dengan pendapat yang dimilki oleh Mu’tazilah. Al-Ash’ari membuat rumusan yang
lain yaitu الصفات قائمة بالذات
أزلية atau diringkaskan لا
هي هو ولا هي غيره artinya bahwa sifat – sifat ilahiyah itu
bukan dzat-Nya, dan bukan selain dzat-Nya.[6]Dari pernyataan tersebut
timbul pertanyaan, apakah sifat – sifat ilahiyah itu ain dzat, atau di luar
dari dzat? Al-Shahrastani menjawab dengan menampilkan perkataan Al-Ash’ari
dengan konsepnya yaitu هي هو, ولا غيره, ولا
ولاهو, ولا لا غيره artinya sifat adalah dzat dan bukan yang
lainnya, bukan bukan, Ia bukan yang lain.[7]
IV.
Aliran-Aliran
dalam Konsep Ketuhanan
Sebelum memasuki kedalam permasalahan
tentang ketuhanan, ada baiknya kita sedikit banyak membahas tentang beberapa
aliran dalam konsep ketuhanan yang telah berkembang dari satu fase ke fase yang
lain. Diantara aliran tersebut adalah Teisme, Tuhan menurut aliran ini berada
di alam atau immanent dan Dia juga jauh dari alam atau transendent. Adapun ciri
lain dari teisme adalah mereka menegaskan bahwasannya Tuhan setelah proses
penciptaan alam selesai, Dia tetap aktif dan selalu memelihara alam. Agama –
agama besar pada dasarnya penganut paham teisme, seperti Yahudi, Kristen, dan
Islam.[8] Tokoh Kristen yang
mengemukakan gagasan ini ialah St. Augustinus. Menurutnya, Tuhan ada dengan
sendirinya (self – existing), tidak diciptakan, tidak berubah, abadi, bersifat
personal yang terdiri dari tiga person, yaitu Bapak, Anak dan Roh kudus.[9]Konsep teisme dalam Islam
dijelaskan oleh Al-Ghazali. Menurutnya, Allah adalah Zat yang Esa dan pencipta
alam serta berperan aktif dalam mengendalikan alam. Yang dimaksud Esa
menurutnya adalah kembali kepada penetapan dzat-Nya.[10]Dalam Al-Qur’an banyak
ayat yang menjelaskan tentang Tuhan yang Esa, diantaranya QS 112: 1 yang
artinya “Katakanlah wahai Muhammad, Dia (Allah) adalah satu”. Adapun ayat yang
menunjukkan bahwa Allah bersifat transendent dan immanent adalah QS 10: 3 yang
artinya “Sesungguhya Tuhan kamu adalah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi
dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur semua
urusan”
Aliran dalam konsep ketuhanan yang
berikutnya adalah Deisme. Menurut paham ini,Tuhan berada jauh di luar alam dan
setelah menciptakan alam, Dia tidak memperhatikan alam dan memeliharanya lagi.
Alam berjalan sesuai dengan peraturan – peraturan yang telah sempurna yang
telah ditetapkan ketika proses penciptaan dan peraturan – peraturan tersebut
tidak berubah – ubah. Tokoh yang mempelopori munculnya aliran ini ialah Newton
(1642-1727). Menurutnya, Tuhan hanya pencipta alam dan apabila ada kerusakan,
alam tidak membutuhkan Tuhan untuk memperbaikinya karena alam sudah memiliki
mekanisme sendiri untuk menjaga keseimbangan.[11]
Aliran yang selanjutnya adalah
Panteisme. Aliran ini berpendapat bahwa seluruh alam ini adalah Tuhan dan Tuhan
adalah seluruh alam, termasuk benda –benda yang bisa ditangkap oleh panca indra
seperti manusia, binatang, tumbuh –tumbuhan, dan benda mati adalah bagian dari
Tuhan. Dalam agama Islam, paham ini biasa disebut dengan Wahdatu al-wujud
(kesatuan wujud) yang dikenalkan oleh Ibnu al-‘Arabi. Disamping memiliki persamaan, keduanya juga memiliki
perbedaan, yaitu dalam panteisme alam adalah Tuhan dan Tuhan adalah alam akan
tetapi dalam wahdatu al-wujud alam bukan Tuhan tetapi bagian dari Tuhan. Bisa
disimpulkan bahwa dalam wahdatu al-wujud alam dan Tuhan tidak identik,
sedangkan dalam panteisme alam dan Tuhan identik.[12]
V.
Keraguan
Terhadap Eksistensi Tuhan
Pada Zaman Pertengahan yaitu antara
abad lima belas dan enam belas Masehi, agama Kristen sangat mendominasi bangsa
Barat. Dengan sangat otoriternya, mereka menindak para ilmuwan yang berbeda
pendapat dengan doktrin Gereja. Diantara para ilmuwan tersebut ialah Nicolaus
Copernicus (1473 – 1543) dengan teorinya tentang heliocentris. Dia mengatakan
bumi berputar pada porosnya, bahwa bulan berputar mengelilingi matahari dan
bumi, serta planet-planet lain semuanya berputar mengelilingi matahari.[13]Akan tetapi teori Copernicus
tersebut sangat bertentangan dengan doktrin yang ada dalam ajaran Gereja pada
saat itu. Gereja berpendapat bahwa pusat dari tata surya ini adalah bumi atau
biasa disebut dengan geocentris. Tepat pada tanggal 24 Mei 1543, Copernicus
dijatuhi hukuman mati oleh Gereja karena teorinya bertentangan dengan ajaran
Gereja.[14]
Setelah Zaman Pertengahan atau yang
biasa disebut dengan Zaman Kegelapan (Dark Ages), muncul periode Pencerahan
(Renaissance). Pada periode ini, berbagai ilmu di Barat banyak berkembang dan
juga periode ini menandakan awal dari Zaman Modern. Adalah David Hume
(1711–1776) tokoh filsafat barat yang yang mengembangkan filsafat Empirisme.
Dia berpendapat bahwa manusia tidak perlu mengunyah tafsiran ilmiah tentang
realitas serta alasan filosofis untuk mempercayai sesuatu di luar jankauan
indra dan Hume membuang argumen yang berusaha membuktikan eksistensi Tuhan dari
ketertataan alam, dengan menyatakan bahwa hal itu didasarkan pada argumen
analogis yang tidak konklusif.[15]Dengan kata lain, Hume menolak
hukum Kausalitas seperti adanya alam ini disebabkan oleh adanya Tuhan.
Selain Empirisme, filsafat Positivisme
yang dikembangkan oleh August Comte (1798–1857) pun mempunyai pengaruh besar di
Zaman Modern. Menurut Comte, sejarah perkembangan alam pikir manusia terdiri
dari tiga tahap, yaitu tahap teologik, tahap metaphisik, dan tahap positif.[16]Dalam pandangannya tentang
Tuhan, Comte mempunyai pendapat bahwa agama atau Tuhan tidak bisa dilihat,
diukur dan dibuktikan, maka Tuhan tidak mempunyai arti dan faedah karena suatu
pernyataan akan dianggap benar oleh positivisme apabila pernyataan itu sesuai
dengan fakta.[17]Ludwig
Andreas Feuerbach (1804-1872) yang sepaham dengan Comte memiliki pandangan yang
lebih positif tentang manusia, ia ingin mencampakan Tuhan yang telah
menyebabkan menyebarnya rasa putus asa di masa silam.[18]
Karl Heinrich Mark (1818–1883) tokoh
Materialisme dan pencetus Komunisme, memandang agama sebagai desahan makhluk
yang tertekan dan candu masyarakat. Selain itu, Mark menegaskan bahwa kepercayaan
kepada Tuhan atau dewa – dewa adalah lambang kekecewaan atas kekalahan dalam
perjuangan kelas. Kepercayaan tersebut adalah sikap yang memalukan yang harus
dienyahkan, bahkan dengan cara paksaan.[19]Dia sendiri mengaku
sebagai seorang ateis yang radikal dengan mengatakan “saya membenci segala
Tuhan”.[20]Tokoh yang lebih ekstim
dalam memandang Tuhan selain Mark adalah Friedrich Wilhelm Nietzsche
(1844–1900). Keyakinan yang mendasari Nietzsche adalah bahwa Tuhan telah mati
dan segala dewata sudah mati, hanya manusia ataslah yang masih hidup.[21]Dia mengumumkan ini dalam
tamsil tentang orang gila yang berlari ke pasar pada suatu pagi, meneriakan,
“aku mencari Tuhan!” ketika seorang penonton dengan pongah bertanya ke mana
menurutnya Tuhan pergi, apakah Dia melarikan diri atau mungkin pindah?, orang
gila itu menatap tajam kearah mereka. “‘Kemana Tuhan pergi?’ dia bertanya.’aku
ingin mengatakan kepada kalian, kita telah membunuhnya – aku dan kalian! Kita
semua adalah pembunuhnya!”.[22]
VI.
Penutup
Setelah mengenal sedikit banyak tentang
aliran - aliran teologi dalam Islam dan beberapa aliran konsep ketuhanan serta
pendapat para tokoh Barat dalam memandang Tuhan, maka kita akan mengetahuhi
bagaimana konsep ketuhanan yang begitu komplek yang ada dalam Islam dengan
berbagai pendapat yang ada di dalamnya, serta pengertian – pengertian dalam
konsep ketuhanan yang telah berkembang dari satu fase ke fase yang lainnya dan
keraguan serta penolakan terhadap Tuhan. Semuanya menjadi sebuah keberagaman
dalam memandang wujud Tuhan. Islam dengan aliran – aliran Kalam dan perbedaan
pendapat di dalamnya, mampu mempersatukan umat dibawah naungan ke-Esaan Allah
SWT. Teisme, Deisme dan Panteisme mampu memberikan contoh dari pengertian dalam
konsep ketuhanan kepada umat Islam agar bisa membedakan satu dengan yang
lainnya.
Berbagai disiplin ilmu serta paham
ideologi yang berkembang di Barat banyak
ditawarkan kepada umat Islam, menjadi sebuah tantangan dalam memahami arti dari
eksistensi Tuhan. Sebagian dari mereka berpandangan bahwa wujud Tuhan tidak
benar dan tidak dapat dibuktikan keberadaannya, karena suatu kebenaran diukur
dari fakta yang ada. Pencampakan Tuhan serta berkeyakinan kepada-Nya adalah
sikap yang memalukan, merupakan suatu problem yang sedang dan akan dihadapi
oleh umat Islam di Zaman Modern ini. Untuk membentengi dari itu semua, umat
Islam sadar bahwa paham ideologi tersebut berasal dari Barat dan bertolak
belakang dengan ajaran Islam yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah. “Kemudian
jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalilah kepada Allah
(Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah
dan hari kemudian” (QS 4:59). Wallahul muta’an...
[1] Hamzah Ya’qub, Filsafat
Agama Titik Temu Akal dan Wahyu, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1991), 10.
[2]Filsafat Ketuhanan – Wikipedia
bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas,
dalam http://www.google.co.id (12 Juli 2012 : 07:29 AM)
[3] Amal Fathullah Zarkasyi, Ilmu Al- Kalam: Tarikhul Madzahib
Al-Islamiyyah wa Qodloyaha Al-Kalamiyyah, (Ponorogo: Darussalam University
Press, 2006), 47.
[4] Ibid., 50.
[5] Amal Fathullah Zarkasyi, Konsep
Tauhid Dalam Perspektif Filsafat, Ilmu Kalam dan Tasawwuf, (Ponorogo:
Fakultas Ushuluddin ISID, 2006), 7.
[6] Ibid., 12.
[7] Ibid., 13.
[8] Amsal Bakhtiar, Filsafat
Agama: Wisata Pemikiran dan Kepercayaan Manusia, (Jakarta: Rajawali Press,
2009), 81.
[9] Norman L. Geisler dan Williams
D. Watkins, perspectives Understandingand Evaluating Today’s World Views,
(California: Here’s Life Peblisers, Inc, 1984), 23. Lihat juga Ibid.,
84.
[10] Amal Fathullah Zarkasyi, ‘Aqidah
Al-Tauhd ‘Inda Al-Falasifah wa Al-Mutakallimin wa Al-S{ufiyah, (Ponorogo:
Darussalam University Press, 2008), 96.
[11] Amsal Bakhtiar, Filsafat
Agama: Wisata Pemikiran dan Kepercayaan Manusia, 89.
[12] Ibid., 94.
[13] Michael H. Hart, Seratus
Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, terj: H. Mahbub Djunaidi
(Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1982)
[14] Ibid.
[15] Karen Amstrong, Sejarah
Tuhan: Kisah Pencarian Tuhan yang dilakukan oleh Orang – Orang Yahudi, Kristen
dan Islam, terj: Zaimul Am, (Bandung: Mizan Pustaka, 2007), 441.
[16] Muhammad Muslih, Filsafat
Ilmu: Kajian atas Asumsi Dasar Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan,
(Yogyakarta: Belukar, 2004), 109.
[17] Amsal Bakhtiar, Filsafat
Agama: Wisata Pemikiran dan Kepercayaan Manusia,116.
[18] Karen Amstrong, Sejarah
Tuhan: Kisah Pencarian Tuhan yang dilakukan oleh Orang – Orang Yahudi, Kristen
dan Islam, 451.
[19] Daniel L. Pals, Dekonstruksi
kebenaran: Kritik Tujuh Teori Agama, terj: Inyiak Ridwan Munir (Yogyakarta:
IRCiSoD, 2005), 201.
[20] Amsal Bakhtiar, Filsafat
Agama: Wisata Pemikiran dan Kepercayaan Manusia, 124-125.
[21] Ali Mudhofir, Kamus Filsafat
Barat, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar), 375.
[22] Karen Amstrong, Sejarah
Tuhan: Kisah Pencarian Tuhan yang dilakukan oleh Orang – Orang Yahudi, Kristen
dan Islam, 458.
Daftar Pustaka
Amstrong,
Karen, Sejarah Tuhan: Kisah Pencarian Tuhan yang dilakukan oleh Orang –
Orang Yahudi, Kristen dan Islam, terj: Zaimul Am, (Bandung: Mizan Pustaka,
2007).
Bakhtiar,
Amsal, Filsafat Agama: Wisata Pemikiran dan Kepercayaan Manusia, (Jakarta:
Rajawali Press, 2009).
Geisler,
Norman L. dan Williams D. Watkins, perspectives Understandingand Evaluating
Today’s World Views, (California: Here’s Life Peblisers, Inc, 1984).
Hart,
Michael H., Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, terj:
H. Mahbub Djunaidi (Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1982).
Muslih,
Muhammad, Filsafat Ilmu: Kajian atas Asumsi Dasar Paradigma dan Kerangka
Teori Ilmu Pengetahuan, (Yogyakarta: Belukar, 2004).
Pals,
Daniel L., Dekonstruksi kebenaran: Kritik Tujuh Teori Agama, terj:
Inyiak Ridwan Munir (Yogyakarta: IRCiSoD, 2005).
Ya’qub,
Hamzah, Filsafat Agama Titik Temu Akal dan Wahyu, (Jakarta: Pedoman Ilmu
Jaya, 1991).
Zarkasyi,
Amal Fathullah, Ilmu Al- Kalam: Tarikhul
Madzahib Al-Islamiyyah wa Qodloyaha Al-Kalamiyyah, (Ponorogo: Darussalam
University Press, 2006).
Zarkasyi,
Amal Fathullah, ‘Aqidah Al-Tauhd ‘Inda Al-Falasifah wa Al-Mutakallimin wa
Al-S{ufiyah, (Ponorogo: Darussalam University Press, 2008).
Zarkasyi,
Amal Fathullah, Konsep Tauhid Dalam Perspektif Filsafat, Ilmu Kalam dan
Tasawwuf, (Ponorogo: Fakultas Ushuluddin ISID, 2006).
Filsafat Ketuhanan –
Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, dalam http://www.google.co.id (12 Juli 2012 :
07:29 AM).