Pembaharuan di Turki :
Turki Muda dan Mustafa Kemal Attaturk
Abstrak
Kemunculan Gerakan Turki Muda
merupakan ekspestasi dari sikap kritis di kalangan intelektual Turki yang
mengenyam pendidikan Barat ketika melihat kondisi negaranya yang carut marut. Pemikiran-pemikiran Barat yang mereka dapatkan
selama belajar di Eropa mereka coba aplikasikan dalam kehidupan masyarakat Turki. Para
tokoh dalam gerakan Turki Muda ini seperti Gokalp maupun Mustafa Kemal Attaturk
berusaha untuk membuat dan mengkokohkan kosepsi Pan Turkisme sebagai landasan
ideal untuk kehidupan masyarakat Turki. Prinsip dasar dari keduanya adalah
sekularisasi artinya memisahkan kehidupan keagamaan dengan kehidupan Negara
sehingga di antara keduanya tidak ada lagi saling bertrok kepentingan.
Kata Kunci : Turki Muda, Gokalp, Mustafa
Kemal Attaturk, Pan Turkisme, Sekularisasi.
I.
Pendahuluan
Pasca kegagalan
Turki Usmani menaklukan Wina dan Eropa mencaplok beberapa
wilayah Usmani, maka terjadilah pembaharuan di Turki. Pembaharuan ini dalam
perkembangannya mengerucut menjadi tiga aliran pembaharuan, yaitu aliran Barat,
aliran Islam dan aliran Nasionalis. Menurut aliran Barat Turki mundur karena bodoh yang disebabkan oleh shariat
yang menguasai seluruh segi kehidupan bangsa Turki . Oleh karena itu Turki akan maju apabila meninggalkan shariat dan
berorientasi kepada Barat. Pendapat aliran barat ini ditentang oleh aliran Islam
yang menyatakan kemunduran Turki ini
disebabkan bahwa para pemimpinnya sudah menjauh dari shariat Islam. Maka
kemajuan Turki pada selanjutnya sangat
bergantung kepada bisa tidaknya para pemimpin Turki untuk memajukan Turki dengan berlandaskan shariat Islam. Adapun
aliran Nasionalis berpendapat bahwa Turki mundur disebabkan oleh keengganan umat Islam
yang tidak mengakomodir perubahan-perubahan.[1]
Reformasi yang
digulirkan oleh kerajaan Usmani[2] ini yang pertama adalah Tanzimat yang
berlangsung pada 1839 sampai 1876. Pada periode ini focus dari reformasi adalah
di bidang militer dan beberapa bidang lainnya. Dalam bidang militer ini
misalnya digunakan untuk memodernkan kekuatan militer Turki agar setara dengan kekuatan militer
Negara-negara Eropa. Maka didatangkanlah ke Istanbul ahli-ahli militer di antaranya
De Rochefort dan Comte de Bonneval alias Humbaraci Pasha dari Perancis, Mac Carthy
dari Irlandia, dan Ramsey dari Inggris.
Pembaharuan dalam bidang-bidang lain juga dilakukan. Untuk membangkitkan
pertanian, Negara menempuh kebijakan rekalamasi (pembagian tanah) dan
resettlement (transmigrasi). Modernisasi teknis meliputi pembaharuan system pos
(1834), telegraf (1855), perkereta apian, dan perancangan bangunan lintasan
kereta api tahun 1866. Selain itu dilakukan reformasi dalam bidang hukum,
pendidikan dan sosial masyarakat. Efek dari reformasi tanzimat ini adalah bahwa
pembaharuan ini telah memancing sebagian kalangan untuk berbuat revolusioner
dikarenakan tanzimat justru membentuk suatu kelas baru, yaitu kelompok birokrat
yang lahir setelah janissary hancur, melemahnya kekuatan politik ulama dan
dengan penerapan reformasi kekuatan politik Turki berpindah ke kalangan birokrat dan didominasi
unsur-unsur kebarat-baratan dan pembaratan sebagai buah dari pendidikan
sebagian pegawai militer dan biro penerjemah yang dididik di sekolah sekuler di
Eropa. Kelompok birokrat ini dipimpin oleh Mustafa Rashid Pasha (1800-1856).[3]
Pasca Tanzimat
maka lahir suatu kelompok intelegensia baru yang menamakan diri sebagai Usmani Muda, yang mengatas namakan penyatuan tradisi
Usmani dan reformasi Usmani , para tokohnya
di antaranya adalah Nanik Kemal (1840-1888) pada satu sisi komitmen terhadap
kontinuitas rezim Usmani , revitalisasi Islam dan modernisasi yang sejalan
dengan pola-pola Eropa. Ini dikarenakan menurut Lapidus[4], lantaran terpesona dengan keberhasilan Inggris
yaitu condong untuk membentuk suatu Negara konstitusional. Mereka menyatakan
bahwa nilai-nilai luhur Usmani harus
sesuai dengan hak asasi manusia dan tak membedakan antara muslim dan non
muslim. Rezim ini tidak akan bertahan kecuali adanya ikatan batin yang kuat
antara kerajaan dengan masyarakatnya. Rezim konstitusional merupakan ekspresi
dari nilai-nilai moral dan politik yang bersifat alamiah, yang segalanya
terkandung dalam aspek shariat Islam dan terdapat dalam kultur Eropa. Usmani Muda lebih menekankan pada aspek rasional
daripada keimanan secara membabi buta. Dengan demikian mereka berusaha
memadukan identitas muslim Usmani dengan
kebutuhan modernisasi teknik, militer, politik dan moral meskipun mereka
mengkritik program tanzimat sebagai program yang tidak peka terhadap
tuntutan-tuntutan sosial dan keagamaan, namun mereka komitmen terhadap modernisasi
masyarakat Islam. Puncak dari pengaruh Usmani
Muda adalah ketika tahun 1876 melakukan coup d’etat dan mengantarkan
kekuasaan sultan yang mendesak dan membatasi konstitusi kekuasaan sultan.
II.
Kemunculan
Gerakan Turki Muda
1.
Gerakan
Pembaharuan Pasca Usmani Muda
Periode
Usmani Muda decade 1860-1870 dibarengi
dengan reaksi dan dominasi rezim otoriter dan dictator yang menentang
prinsip-prinsip konstitusional dan modernis Usmani Muda. Rezim ini ditegakkan di atas kekuasaan
birokrasi dan kebijakan sultan yang absolute. Sang sultan dipandang sebagai
pimpinan Islam, dan mengklaim sebagai otoritas global atas seluruh muslim. Namun
demikian rezim ini memadukan antara loyalitas Islam yang konservatif dengan
konstitusi reformasi teknik tanzimat. Dalam periode ini diperkenalkan sekolah,
kitab perundang-undangan, lintasan kereta api dan teknik militer yang baru.
2.
Turki
Muda
Setelah masa kekuasaan yang absolute dikendalikan
oleh Usmani Muda maka generasi
intelektual Turki bangkit pada sekitar
tahun 1880-an dan 1890-an dan melancarkan aksi terhadap rezim yang konservatif.
Serangan-serangan ini adalah sebagai akibat dari pesatnya perkembangan
pendidikan dan perekonomian meningkatkan posisi kalangan akademisi. Pers
menyebarluaskan ide-ide Eropa tentang ilmu pengetahuan dan politik serta
mempopulerkan sikap-sikap Barat. Meskipun masih ada control pemerintah yang
berusaha menekan dan melakukan penyensoran. Ide-ide tersebut menyebar dari Ibu Kota
ke sejumlah wilayah Propinsi lantaran peran para pelajar. Para jurnalis,
penulis, dan penerbit yang mengasingkan diri di Paris pada tahun 1889 membentuk
sebuah kelompok yang dinamakan Turki Muda, yang dalam konsepsi gerakannya
mempertahankan persekutuan mereka terhadap dinasti Usmani , namun mereka mengatasi
restorasi sebuah rezim parlementer dan konstitusional[5]. Gerakan ini secara internal terbagi
menjadi dua yaitu yang pertama kelompok yang dipimpin oleh Ahmad Riza, kelompok
ini menghendaki seorang sultan yang kuat, pemusatan kekuasaan, dan pengutamaan
unsur-unsur muslim-Turki dari warga
Usmani; dan sebuah kelompok lainnya yang dipimpin oleh Sultan Sabbahedin, yang
menekankan bentuk-bentuk desentralisasi pemerintahan Usmani, dan menghendaki
sebuah masyarakat federasi dengan pemberian otonom bagi warga Kristen dan warga
minoritas lainnya. Gerakan ini, sekitar tahun 1905 didirikan Fatherland Society
atau Masyarakat tanah air oleh Mustafa Kemal, yang pada saat itu menjabat
perwira militer dan kelak akan menjadi Presiden pertama Turki. Kemudian sebuah
kongres Turki Muda membentuk Committee
for Union and Progress (CUP) pada tahun 1907. Tahun 1908 cabang CUP di Monastir
memberontak dan menuntut sultan untuk kembali menggunakan UUD 1876. Konsepsi
dari Turki Muda adalah Pan Turkisme, yang
mulanya dicetuskan oleh Yusuf Akcura. Menurutnya[6] bahwa penciptaan satu bangsa Turki dari berbagai unsur yang ada di kerajaan
adalah ilusi, bahwa Negara-negara colonial akan menghadang upaya apa pun untuk
menciptakan persatuan politis yang dilakukan oleh umat muslim sedunia, tapi
Pan-Turkisme akan mendukung semua bangsa Turki di Asia dan hanya akan menentang Rusia. Pemikiran
Akcura ini mendapatkan dukungan dari kalangan kaum intelektual Turki Muda namun ia tidak memperoleh pengakuan
Negara sampai meletusnya perang Balkan tahun 1913. Antara tahun 1913-1918 CUP
menempuh program yang agresif dalam mensekulerkan sekolah-sekolah, lembaga
peradilan dan kitab perundang-undangan dan menempuh langkah awal dalam memperjuangkan
emansipasi wanita. Pada tahun 1916 pemerintahan CUP mereduksi peran Shaikh al-Islam,
dan mengalihkan seluruh yurisdiksi peradilan muslim kepada kementrian
kehakiman, dan menyerahkan penanganan perguruan muslim kepada kementrian
pendidikan. Sekitar tahun 1917 diberlakukan UU Keluarga yang berorientasi
kepada kultur Eropa. Oposisi sebelumnya yang dikuasasi oleh gerakan Usmani Muda dengan cepat menjadi kekuasaan Turki Muda yang berhaluan lebih sekuler. Program CUP
memihak kepentingan Usmani dan
sekularis, tetapi ia juga meningkatkan orientasi Turki. Konsepsi Turki Muda yang mengagkat tema Pan Turkisme berhasil
mengukuhkan imperium Usmani dalam term
kebangsaan Turki. Pola pemikiran ini memberikan peluang kepada Kristen untuk
mengusulkan bahwa masyarakat yang memiliki warisan etnik, linguistic dan
keagamaan seharusnya memiliki sebuah Negara territorial sendiri. Puncaknya
sekitar akhir abad kesembilan belas telah lahir sejumlah kebangsaaan Kristen
diantaranya Yunani, Serbia, Rumania, Bulgaria dan Montenegro. Kesemuannya itu
semula adalah bagian dari imperium Usmani. Lalu Albania melancarkan pemberontakan
dan Armenia mengklaim sebagai wilayah otonom.
Ziya Gokalp (1875-1924) tampil sebagai sosok Turki Muda yang dominan dan pembawa semangat
nasionalisme yang fanatic. Tanpa menyesali kemunduran imperium Usmani, ia
meresmikan kultur rakyat Turki dan
meyerukan reformasi Islam untuk menjadikan Islam sebaga ekspresi dari etos Turki.
Gokalp menggelar kampanye kebangsaan untuk menyederhanakan bahasa Turki,
menjadikannya lebih mudah diterapkan di kalangan masyarakat umum dan meyadarkan
masyarakat umum atas nasionalisme Turkinya sendiri. Ide pemikiran nasionalisme Turki
dalam pandangan Gokalp bersumber pada
budaya atau menggunakan pendekatan sosiologis. Bagi Gokalp, suatu perubahan
politik tidak akan berarti apa-apa, kecuali jika diikuti revolusi sosio kultural.
Tujuan akhir Turkisme Gokalp adalah menumbuhkan suatu kebudayaan nasional yang
bukan pula kebudayaan Barat. Tanpa menumbuhkan kebudayaan, Turki sendiri tidak akan menjadi reformis dan
modernis yang sejati. Dengan demikian, nasionalisme dalam pandangan Gokalp bisa
disebut Turkisme Kultural, yang bukan merupakan sebuah partai politik,
melainkan gerakan ilmiyah, filosofis, estetis, dan moral. Dalam pandangannya
suatu bangsa merupakan sebuah kelompok atau kolektivitas social yang terdiri
atas para individu yang menerima pendidikan yang sama, memiliki bahasa, emosi,
idea-idea, agama, moralitas, dan rasa estetika yang sama. Bagi Gokalp, factor
religious tidak menjadi hal mutlak dalam criteria nasionalisme Turki , agama
menjadi sebuah moralitas dan solidaritas social. Oleh karena itu, pikiran-pikiran
teokrasi harus dibersihkan dari persoalan politik. Sehingga pada akhirnya, ia
merekomendasikan Shaikh al-Islam dihapuskan. Dengan demikian secara sederhana
dapat dipahami bahwa pemikiran Gokalp adalah pemisahan antara agama dengan
politik. Gagasan kebangsaan Turki tersebut memperkuat kecenderungan terhadap
sekularisme dan modernitas, sebab gagasan tersebut membuka kesempatan bagi
bangsa Turki untuk melepaskan diri dari Islam
tanpa harus bersikap kompromis terhadap identitas Barat mereka. Konsep
Kebangsaan Turki atau Pan Turkisme memberi
peluang gagasan tersebut menetapkan sebuah kewargaan yang baru yang menumbuhkan
identitas kesejarahan masyarakat Turki dan bukan identitas kesejarahan masyarakat
muslim dan dengan demikian ia merupakan identitas modern dan bukan identitas Barat[7]
Ide terbentuknya sebuah Pan Turkisme terjadi saat
berbagai peristiwa politik antara tahun 1908-1918 yang mengakhiri kelangsungan
imperium Turki yang multinasional, dan
multireligius. Pada akhir perang dunia I apa yang tersisa dalam imperium Turki Usmani adalah Anatolia dengan mayoritas warga Turki dan sebagian kecil warga keturunan Yunani, Kurdi
dan Armenia. Realitas kehidupan politik Usmani sekarang ini sejalan dengan konsep nasionalis
tentang masyarakat Turki. Pada tahun 1918 imperium Turki Usmani telah hancur, namun elit birokratik dan
militer telah siap mengubah komitmen mereka dari sebuah rezim multinasional dan
multireligius menjadi sebuah Negara Nasional Turki dan sekuler.
III.
Mustafa
Kemal Attaturk
1.
Sekilas
Tentang Mustafa Kemal Attaturk
Seorang pemimpin Turki baru, yang menyelamatkan kerajaan Usmani dari
kehancuran total yang disebabkan penjajahan Eropa. Ialah pencipta Turki modern dan atas jasa-jasanya, ia mendapat
gelar Attaturk (bapak Turki ). Ia Mustafa Kemal Ataturk lahir di Salonika pada
tahun 1881.[8] Orang tuanya bernama Ali
Riza seorang pegawai biasa di salah satu kantor pemerintah di kota itu,
sedangkan ibunya bernama Zubayde, seorang wanita yang amat dalam perasaan
keagamaannya.
Pada mulanya Mustafa,
atas desakan ibunya dimasukkan di Madrasah, tetapi karena tidak merasa senang
belajar di sana, ia selalu melawan guru. Ia kemudian dimasukkan orang tuanya ke
sekolah dasar modern di Salonika. Dalam usia empat belas tahun ia tamat belajar
di sekolah ini dan meneruskan pelajaran pada sekolah latihan militer di kota
Monastir dan pada 13 Maret 1899 ia masuk ke sekolah ilmu militer di Istanbul
sebagai kader pasukan infanteri. Tahun 1902 ia ditunjuk menjadi salah satu staf
pengajar dan pada bulan Januari 1905 ia lulus dengan pangkat kapten. Selama masih
belajar, Mustafa Kemal sudah mulai kenal dengan politik melalui seorang
temannya bernama Ali Fethi. Atas dorongan sahabatnya ini ia memperkuat dan
memperdalam pengetahuan tentang bahasa Perancis, sehingga ia dapat membaca
kerangka filosof-filosof Perancis seperti Roussean, Voltaire, Auguste Comte,
Montesquien, dll. Di samping itu sejarah dan sastra juga menarik perhatiannya. Masa
studi Mustafa Kemal di Istanbul adalah masa meluasnya tantangan terhadap kekuasaan
absolut Sultan Abdul Hamid dan masa pembentukan perkumpulan-perkumpulan rahasia
bukan di kalangan politisi saja, tetapi juga di kalangan pemuda di
sekolah-sekolah militer. Mustafa dan teman-temannya pernah membentuk suatu
komite rahasia dan menerbitkan surat kabar tulisan tangan yang mendukung kritik
terhadap pemerintahan Sultan. Sesudah selesai studi, ia tidak meninggalkan kegiatan
politik sehingga akhirnya bersama dengan beberapa teman ditangkap dan
dimasukkan ke dalam penjara untuk beberapa bulan. Kemudian mereka dibebaskan,
tetapi diasingkan ke luar Istanbul. Ia sendiri dan bersama seorang sahabatnya
Ali Puad diasingkan ke Suria. Di Damshik ia juga tidak melepaskan diri dari
kegiatan politik, dan selalu mengadakan perjumpaan dengan pemuka-pemuka yang
dibuang di kota ini. Di tahun 1906 mereka membentuk perkumpulan Vatan (tanah
air). Mustafa Kemal dalam kedudukannya sebagai perwira yang dapat berkunjung ke
kota-kota lain, memberi bantuan dalam membentuk cabang-cabang di Yaffa,
Yerusalem, dan Beirut. Kemudian dia melihat bahwa di daerah ini revolusi
Turki tidak akan bisa muncul, karena
penduduknya berbangsa Arab dan juga karena terletak agak jauh dari Istanbul
tempat yang strategis ialah Salonika. Cuti sakit yang diperolehnya, ia pakai
untuk berkunjung ke kota tempat ia lahir itu. Di sana ia berhasil membentuk
cabang dari perkumpulan yang didirikan di Damshik. Namanya di rubah menjadi Vatan
ve Hurriyet (tanah air kemerdekaan). Di tahun 1907 ia dipindahkan ke Salonika
untuk bekerja di staf umum. Ketika itu perkumpulan persatuan dan kemajuan telah
dibentuk dan berpusat di kota ini. Perkumpulan baru itu lebih besar pengaruhnya
dari perkumpulan Vatan ve Hurriyet. Mustafa Kemal melihat tidak ada jalan lain
baginya kecuali turut menggabungkan diri dalam gerakan persatuan dan kemajuan.
Dalam Revolusi 1908 ia tidak mempunyai peranan, karena tidak dapat menandingi
pemimpin-pemimpin senior seperti Enver, Talat, Jemal dan lain-lain. Di konferensi
perkumpulan persatuan dan kemajuan yang diadakan di Salonika, Mustafa Kemal
mengeluarkan pendapatnya tentang partai dan tentara, yang keduanya telah
bergabung menjadi satu dalam perkumpulan tersebut. Keadaan seperti ini, menurut
Mustafa Kemal tidak menguntungkan bagi perjuangan. Agar Negara dan konstitusi
dapat dipertahankan, demikian ia menjelaskan, diperlukan tentara yang kuat di satu
pihak dan partai yang kuat dipihak lain. Perwira yang harus tunduk kepada kedua
kepala akan menjadi prajurit yang tidak baik dan sekaligus juga politikus yang
tidak baik. Ia akan mengabaikan kewajibannya untuk militernya dan mudahlah
musuh mengadakan gerakan perlawanan, seperti yang diadakan oleh Sultan Abdul
Hamid. Pada waktu itu hubungannya dengan rakyat terputus dan terjadilah
kekacauan politik dan selanjutnya timbullah perasaan tidak senang di kalangan
rakyat. Perwira disuruh memilih, tinggal dalam partai dan keluar dari tentara,
atau tinggal dalam tentara dan keluar dari partai. Selanjutnya harus
dikeluarkan Undang-Undang yang melarang perwira yang menjadi anggota Partai.
Pendapatnya ini kurang mendapat sambutan dari konferensi. Ia dengan temannya
Ali Fethi tidak setuju dengan politik Enver, Talat dan Jemal dan tidak segan
mengeluarkan kritik terhadap ketiga pemimpin itu. Akhirnya di tahun 1913 Fethi
dibuang ke Sofia sebagai Duta dan Mustafa Kemal ikut sebagai Attase Militer. Di
sinilah Mustafa Kemal berkenalan langsung dengan peradaban Barat yang amat
menarik perhatiannya, terutama pemerintahan parlement. Setelah perang dunia I
pecah ia dipanggil kembali untuk menjadi panglima Divisi 19. Setelah perang
dunia I ia diangkat menjadi panglima dari semua pasukan yang ada di Turki Selatan. Izmir telah jatuh dan Sanyrna telah
diduduki tentara sekutu, dan kewajiban Mustafa Kemal kembali membebaskan daerah
itu dari kekuasaan asing dengan mendapat sokongan dari rakyat yang telah mulai
membentuk gerakan-gerakan membela tanah air, ia akhirnya dapat memukul musuh
mundur dan menyelamatkan daerah Turki dari penjajahan asing. Dengan teman-temannya
dari pimpinan nasionalis lain Ali Paud dan Refat, ketika itu ia mulai menantang
pemerintah yang datang dari Sultan Istanbul, karena perintah itu banyak
bertentangan dengan kepentingan nasional Turki . Sultan di Istanbul telah
berada di bawah kekuasaan sekutu dan harus menyesuaikan diri dengan kehendak
mereka. Mustafa Kemal melihat perlunya diadakan pemerintahan tandingan di
Anatolia. Segera ia dengan rekan-rekannya tersebut di atas mengeluarkan
maklumat yang berisi pernyataan-pernyataan berikut:
1.
Kemerdekaan Tanah Air sedang dalam keadaan bahaya
2.
Pemerintah di Ibu Kota terletak di bawah kekuasaan sekutu dan oleh
karena itu tidak dapat menjalankan tugas.
3.
Rakyat Turki harus berusaha
sendiri untuk membebaskan tanah air dari kekuasaan asing.
4.
Gerakan – gerakan pembela Tanah Air yang telah ada harus dikoordinir
oleh suatu panitia nasional pusat.
Atas usaha Mustafa Kemal dan teman-temannya dapat dibentuk Majelis
Nasional Agung di tahun 1920. dalam sidang di Ankara, yang kemudian menjadi Ibu
Kota Republik Turki , ia dipilih sebagai ketua. Dalam sidang itu diambil antara
lain keputusan-keputusan berikut:
1. Kekuasaan tertinggi terletak ditangan rakyat Turki
2. Majelis Nasional Agung merupakan Perwakilan Rakyat
tertinggi
3. Majelis Nasional Agung bertugas sebagai badan legislative
dan badan eksekutif
4. Majelis Negara yang anggotanya dipilih dari majelis
Nasional Agung akan menjalankan tugas pemerintah
Demikianlah, Mustafa Kemal dan teman-temannya dari golongan nasionalis
bergerak dan dengan perlahan-lahan dapat menguasai situasi sehingga akhirnya
sekutu terpaksa mengakui sebagai penguasa defacto dan dejure di Turki . Pada
tanggal 23 Juli 1923 ditandatangani perjanjian lausanite dan pemerintahan
Mustafa Kemal mendapat pengakuan internasional. Jadi, Mustafa Kemal adalah
seorang yang nasionalis karena lingkungan tempat belajar /studinya mulai
mengenal peradaban-peradaban Barat yang menarik perhatiannya kemudian karena
dukungan sahabatnya Ali Fethi ia mulai mengenal politik, karena ia seorang yang
nasionalis di Turki ia berkeinginan
untuk mengadakan perubahan-perubahan atau dalam bentuk westernisasi
sekularisasi di Turki dengan paham
atau ide nasionalisme yang dianutnya. ia meninggal dunia di tahun 1938.
2.
Kebijakan
– Kebijakan Mustafa Kemal Attaturk
Semboyan Kemal
Attaturk selama memerintah Turki adalah westernsasi, sekulerisasi dan nasionalisme.
Dalam lapangan agama dan kebudayaan, Mustafa kemal membuat sejumlah kebijakan
yang sama sekali baru. Pada 28 Juni 1928 misalnya ia memperkenalkan bangku
gereja serta jam kamar ke dalam masjid, orang shalat dengan memakai sepatunya,
menggunakan bahasa Turki dalam shalat. Dan untuk membuat agar masjid tersebut
indah serta memperoleh inspirasi spiritual maka masjid perlu melatih para
musikus dan alat-alat music. Jelas sekali bahwa Mustafa Kemal membawa unsur-unsur
Kristen dalam aspek keagamaan Islam yang suci dengan alasan bahwa sebuah Negara
modern yang Barat harus memasukan semua aspek tersebut ke dalam masjid. Di
samping itu Mustafa Kemal membuat kebijakan-kebijakan yang intinya dalah
berupaya meningkatkan masyarakat Turki kepada satu tingkat peradaban
kontemporer dan untuk memelihara karakter secular republic Turki[11]. Di antara kebijakan itu adalah:
1.
Undang-undang
tentang unifikasi dan sekularisasi pendidikan tanggal 3 maret 1924;
2.
Undang-undang
tentang kopiyah, tanggal 25 november 1925;
3.
Undang-undang
tentang pemberhentian petugas jamaah dan makam, penghapusan lembaga pemakaman,
tanggal 30 november 1925;
4.
Peraturan sipil
tentang perkawinan, tanggal 17 februari1926;
5.
Undang-undang
pemakaian huruf latin untuk abjad turki dan penghapusan tulisan arab, tanggal 1
november 1928;
6.
Undang-undang tentang
larangan menggunakan pakaian tradisional, tanggal 13 desember 1934.
Mustafa Kemal
dalam kebijakannya memang dikenal sangat radikal. Mulai tahun 1920 ketika
idenya untuk memisahkan antara agama dengan Negara (sekularisasi) diterima oleh
MNA, yang mengakibatkan kedaulatan sultan menjadi terbatas sebab semuanya kini
ada di tangan rakyat. Pada tahun 1922 Mustafa Kemal menyatakan bahwa jabatan
kekhalifahan masih ada namun sebatas sebagai jabatan spiritual, sedangkan
kewenangan duniawinya ditiadakan. Sebelum pada akhirnya jabatan khalifah
dihapuskan, sekitar tahun 1923 Mustafa kemal merubah bentuk Negara dari
khilafah menjadi republic dan Islam menjadi agama Negara. Maka pada tahun 1924,
tepatnya tanggal 3 maret 1924, Mustafa Kemal melalui MNA menyatakan bahwa
jabatan Khilafah dihapuskan. Penghapusan ini disusul selanjutnya menghapus
Islam sebagai agama tahun 1928, tahun 1937 mendeklarasikan Turki sebagai Negara
sekuler. Sebelum menjadi Negara sekuler Mustafa Kemal telah meniadakan
institusi-institusi keagamaan dalam pemerintahan yaitu:
1.
Penghapusan
Biro Shaikh al-Islam (1924)
2.
Penghapusan
kementrian shariat
3.
Penghapusan
mahkamah shariat.
Pengaruh
sekularisai yang dijalankan oleh Mustafa Kemal diakui sebagai kemenangan
gerakan Turki Muda dalam menggulingkan kekuasaan khilafah dengan basis
westernisasi yang dijiplaknya habis-habisan maka tidaklah mengherankan bila
kebijakan Mustafa Kemal banyak yang bertentangan dengan kebijakan Islam seperti
yang telah dijelaskan sebelumnya. Perubahan pada beberapa bidang dan kemasyarakatan yang ditempuh oleh
Mustafa Kemal Ataturk (Bapak Turki) dalam sejarah Turki sesuai dengan program kelompok persekutuan dan
kemajuan (Al-Ijtihad wa al-Faraqqi) yang telah mewarnai lembaran baru sejarah Turki.
Perubahan-perubahan tersebut antara lain :
1. Pada bulan Maret 1924 Majelis Kebangsaan mengadakan
sidang. Hasil sidang tersebut menetapkan bahwa jabatan khalifah dan jabatan
Menteri Shari’at dan waqaf dihapuskan. Langkah berikutnya, demi untuk
menyempurnakan ide tentang Turki modern,
Mustafa Kemal menghapuskan seluruh institusi keagamaan yang ada dalam
pemerintahan. Dia mengumumkan penghapusan mahkamah shariyyah dan
menggantikannya dengan mahkamah sipil ala Barat. Lembaga-lembaga pendidikan dan
sekolah-sekolah agama dihapuskan, selanjutnya seluruh lembaga pendidikan
digabungkan di bawah satu naungan Departemen Pendidikan.
2. Kebijaksanaan berikutnya Mustafa Kemal menghapuskan
artikel dalam UUD yang berbunyi bahwa “agama Islam adalah agama Negara”.
Selanjutnya dia menghapuskan shariat Islam dan sebagai gantinya Shariat Atiqat
(Hukum Adat) diberlakukan akan tetapi shariat Atiqat juga kemudian diganti lagi
dengan hukum positif model Swiss dan hukum pidana ala Itali. Hari libur resmi
mingguan dirubah dari hari Jum’at menjadi hari minggu, di samping mengganti
kalender Hijriyah dengan kalender Miladi. Hukum waris pun tidak luput dari
perubahan-perubahannya. Bagian laki-laki dan perempuan disamakan dan yang
menjadi ahli waris adalah hanya keluarga mayat saja (anak istri) yang lain
tidak. Pemerintahan Ataturk tidak henti-hentinya melakukan usaha-usaha perubahan
demi terhapusnya unsur keagamaan dari pemerintahan atau paling tidak demi
melepaskan pemerintahan dari sebagian besar unsur-unsur Islam. Jumlah Masjid
dibatasi dan tidak dibenarkan luas halaman masjid lebih dari lima ratus meter.
Kemudian para khatibnya pun yang diangkat oleh pemerintahan dikurangi hingga
diseluruh wilayah Turki hanya tinggal
tiga ratus saja dan mereka dalam menyampaikan masalah-masalah pertanian, perdagangan
dan sebagainya. Yang sangat melukai perasaan umat Islam adalah tindakan menutup
dua masjid raya yang ada di Istanbul, yang pertama Mustafa Kemal hendak merubah
masjid Aya Sophia yang hendak dijadikan museum dan kedua menutup masjid raya al-
Fatih yang hendak dijadikan gudang.
3. Kemudian Mustafa Kemal melarang poligami, sesuai
dengan hukum model scoiss walaupun dalam prakteknya ada sedikit perubahan yaitu
bagi mereka yang dianggap kaya dan mampu masih tetap diperbolehkan.
4. Dalam upaya menjauhkan diri dari Islam dan dalam
rangka westernisasi pemerintah Turki tidak memperkenankan msyarakat umum memakai
jilbab dan cadar kecuali para agamawan dan sebagai gantinya masyarakat memakai
baju dan topi ala Barat. Kemudian pemerintah mengeluarkan Undang-Undang yang
mewajibkan warga negara Turki memakai
marga dibelakang namanya yang tidak dikenal dikalangan masyarakat Turki sebelumnya. Kemudian pemerintah melarang
mengadakan kegiatan spiritual yang bisa dilakukan pengikut tarekat dan menutup
tempat-tempat tersebut. Pemerintah dengan kejam menindak siapa saja yang
coba-coba mengkritik kebijaksanaannya, dalam masalah-masalah agama. Para wanita
Turki seperti prianya diperbolehkan
bekerja. Huruf Arab dihapus dan diganti dengan huruf latin. Demi terhapusnya
huruf Arab dari bumi Turki , secara langsung Ataturk pribadi menjadi pengajar
huruf latin. Di setiap kota dan desa didirikan sekolah-sekolah untuk
mengajarkan huruf latin (yang telah diresmikan, menjadi huruf nasional). Kepada
masyarakat tanpa mengenal usia. Kemudian di fakultas-fakultas pendidikan
tradisional mata kuliah bahasa tersebut merupakan unsur terpenting untuk
memahami kesusastraan Turki. Percetakan-percetakan dilarang menerbitkan
buku-buku yang berbahasa Turki yang
menggunakan huruf Arab.
Maka hasil buruk-baiknya gerakan itu sudah boleh dilihat dan bahkan
sudah boleh diberi angka patennya :
1. Negeri dan rakyat Turki pada waktu ini (1971 M) boleh dikatakan suatu
negara yang penduduknya masih beragama Islam, tetapi sudah terisolir begitu
rupa dari dunia-dunia Islam yang lain. Kalau dulu di zaman khalifah dan Shaikh al-Islam,
pengaruh Turki berkumandang ke seluruh
pojok dunia maka sekarang hubungan itu sudah putus sama sekali. Kalau dulu Turki
dianggap “Imam dunia Islam” dalam
soal-soal keagamaan, kebudayaan, ilmu pengetahuan, tetapi sekarang Turki sudah dilupakan oleh dunia Islam. Turki sekarang sudah dianggap oleh dunia Islam
negeri yang penduduknya masih beragama Islam, tetapi tidak berpengaruh apa-apa
lagi. Dalam dunia politik, Turki bukan
lagi suatu imam politik dari negeri-negeri Islam Asia Afrika, tetapi Turki sudah menjadi makmum, pengekor dari roda
politik dunia Barat, tidak bisa lagi dimasukkan ke dalam kategori negara-negara
besar”.
2. Agama menjadi rusak atau menjadi hilang, akibat
dari penukaran Qur’an suci dari bahasa Arab ke bahasa Turki , begitu juga
penukaran upacara-upacara agama, seperti adhan, sembahyang, berdo’a dari bahasa
Arab ke bahasa Turki maka semuanya jadi
centang-prenang dan menjadi kacau. Apalagi bahasa Turki tidak mempunyai cukup istilah-istilah yang
dapat menyerupai 100% apa yang terkandung di dalam bahasa Arab. Maka pengertian
keagamaan pun jadi berubah. Dari corak yang dibawa Al-Qur’an suci ke corak
nasionalis-Turki yang sempit.
3. Akibat daripada diperbolehkannya wanita Islam kawin
dengan pemuda Nashara dan Yahudi, maka darahnya bangsa Turki sesudah Mustafa Kemal menjadi darah
Fifty-Fifty, 50% darah Islam dan 50% darah Nashara atau yahudi, kalau tidak
akan dikatakan menjadi 75% darah Nashara dan darah Yahudi.[12]
IV.
Penutup
Para jurnalis,
penulis, dan penerbit yang mengasingkan diri di Paris pada tahun 1889 membentuk
sebuah kelompok yang dinamakan Turki Muda, yang dalam kosepsi gerakannya
mempertahankan persekutuan mereka terhadap dinasti Usmani, namun mereka mengatasi
restorasi sebuah rezim parlementer dan konstitusional. Gerakan ini secara
internal terbagi menjadi dua yaitu yang pertama kelompok yang dipimpin oleh
Ahmad Riza, kelompok ini menghendaki seorang sultan yang kuat, pemusatan
kekuasaan, dan pengutamaan unsur-unsur muslim-Turki dari warga Usmani; dan
sebuah kelompok lainnya yang dipimpin oleh Sultan Sabbahedin, yang menekankan
bentuk-bentuk desentralisasi pemerintahan Usmani, dan menghendaki sebuah
masyarakat federasi dengan pemberian otonom bagi warga Kristen dan warga
minoritas lainnya.
Konsepsi dari
Turki Muda adalah Pan Turkisme, yang mulanya dicetuskan oleh Yusuf Akcura.
Menurutnya bahwa penciptaan satu bangsa Turki dari berbagai usnsur yang ada di
kerajaan adalah ilusi, bahwa Negara-negara colonial akan menghadang upaya apa
pun untuk menciptakan persatuan politis yang dilakukan oleh umat muslim
sedunia, tapi Pan-Turkisme akan mendukung semua bangsa Turki di Asia dan hanya
akan menentang Rusia.
Ide pemikiran
nasionalisme Turki dalam pandangan Gokalp bersumber pada budaya atau
menggunakan pendekatan sosiologis. Bagi Gokalp, suatu perubahan politik tidak
akan berarti apa-apa, kecuali jika diikuti revolusi sosiokultural. Tujuan akhir
Turkisme Gokalp adalah menumbuhkan suatu kebudayaan nasional yang bukan pula
kebudayaan Barat. Tanpa menumbuhkan kebudayaan Turki sendiri tidak akan menjadi
reformis dan modernis yang sejati. Dengan demikian, nasionalisme dalam
pandangan Gokalp bisa disebut Turkisme Kultural, yang bukan merupakan sebuah partai
politik, melainkan gerakan ilmiyah, filosofis, estetis, dan moral.
Semboyan Kemal Attaturk selama memerintah Turki adalah westernsasi, sekulerisasi dan nasoinalisme. Pengaruh sekularisai yang dijalankan oleh Mustafa Kemal diakui sebagai kemenangan gerakan Turki Muda dalam menggulingkan kekuasaan khilafah dengan basis westernisasi yang dijiplaknya habis-habisan maka tidaklah mengherankan bila kebijakan Mustafa Kemal banyak yang bertentangan dengan kebijakan Islam seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.
Semboyan Kemal Attaturk selama memerintah Turki adalah westernsasi, sekulerisasi dan nasoinalisme. Pengaruh sekularisai yang dijalankan oleh Mustafa Kemal diakui sebagai kemenangan gerakan Turki Muda dalam menggulingkan kekuasaan khilafah dengan basis westernisasi yang dijiplaknya habis-habisan maka tidaklah mengherankan bila kebijakan Mustafa Kemal banyak yang bertentangan dengan kebijakan Islam seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.
* Mahasiswi Program Pasca Sarjana IAIN Sunan
Ampel Surabaya Konsentrasi Pemikiran Islam, NIM F05411 061.
[1] Jaih Mubarok, Sejarah
Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2005), 184.
[2] Turki Usmani
sebagai sebuah sistem kenegaraan tidak bisa dipisahkan dari sejarah masa
lalu di wilayah yang kelak menjadi pusat dari pemerintahan Turki Usmani . Yaitu Byzantium, dan sebelum
berdirinya Turki Usmani , di wilayah
tersebut pernah berkuasa Kerajaan Romawi, setelah kerajaan ini surut maka
muncullah Kerajaan Romawi Timur (Byzantium), secara tidak langsung kehadiran
orang-orang pengembara Turki Seljuk
(Suku Bangsa yang melahirkan Kerajaan Turki
Usmani ) di wilayah tersebut setelah mendapatkan pancaran cahaya Islam
ingin menguasai daerah itu karena memang letaknya sangat strategis. Baik
Turki Usmani maupun Byzantium selalu merasa sebagai
pewaris dari Kekaisaran Romawi kuno. Terkait apakah Turki Usmani
menganut sistem kekhilafahan, bila ditengok kembali kepada sirah
nabawiah, di mana pengangkatan 4 khalifah pertama Umat Muslim itu jauh dari
kesan pewarisan takhta Kerajaan. Dan yang memulai sistem itu dalam tatanan
Islam adalah dinasti Muawiyyah.. dilanjutkan oleh Abbasiyah dan seterusnya.
Sebagaimana yang dikemukakan oleh para sejarawan, bahwa sistem yang digunakan
oleh dinasti-dinasti tersebut (termasuk Turki
Usmani ) adalah perpaduan antara sistem kerajaan dengan sistem Islam. Dan tidak dipungkiri jika Turki Usmani
menganut sistem kekhalifahan namun perlu diperhatikan juga bahwa
penyebutan bagi kekuasaan Turki Usmani itu ada tiga macam, selain Kerajaan, dinasti
ini pun disebut Kesultanan, dan tentu Kekhalifahan. Setuju atau tidak setuju
penyebutan Turki Usmani entah sebagai sebuah kerajaan, kesultanan
ataupun kekhalifahan kembali kepada kecenderungan seorang sejarawan.
[3]Ira M. Lapidus, Sejarah
Sosial Umat Islam bagian ketiga, (Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2000),
77.
[4] Ibid, 78.
[5] Ibid, 79-80.
[6] Erik J. Zurcher, Sejarah
Modern Turki , (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003), 163-164.
[7] Ira M. Lapidus, Sejarah
Sosial Umat Islam bagian ketiga, 83.
[8] Ajid Thohir, Perkembangan
Peradaban Di Kawasan Dunia Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004),
222.
[9] Jaih Mubarok, Sejarah
Peradaban Islam, 184.
[10] Ibid, 186.
[11] Ajid Thohir, Perkembangan
Peradaban Di Kawasan Dunia Islam, 224.
[12] Muhtarom,Mustafa Kemal Attartuk dan Sekularisme, dalam
http://www.google.co.id, (27 Mei 2012,
10:56 AM).
Daftar Pustaka
Lapidus, Ira M., Sejarah Sosial Umat Islam
bagian ketiga, (Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2000).
Mubarok, Jaih, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung:
Pustaka Bani Quraisy, 2005).
Muhtarom,Mustafa Kemal Attartuk dan Sekularisme, dalam
http://www.google.co.id, (27 Mei 2012,
10:56 AM).
Thohir, Ajid, Perkembangan Peradaban Di Kawasan
Dunia Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004).
Zurcher, Erik J., Sejarah Modern Turki ,
(Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar