Sabtu, 11 Oktober 2014

Problematika Pemikiran Islam Tentang Ketuhanan (Filsafat Islam)


Problematika Pemikiran Islam Tentang Ketuhanan

Abstrak
Suatu aksioma dalam ilmu filsafat ialah. Bahwa otak manusia umumnya bekerja dengan benar, tidak sesat, otak manusia itu mempunyai kesanggupan untuk mencapai kebenaran. Otak manusia itu pada umumnya berpendapat, bahwa Tuhan Yang Maha Esa itu ada. Manusia berpikir, dengan penglihatan kasar terlihat, bahwa manusia dan binatang itu jadi sendiri, yakni dari ibu dan bapak, dan ibu bapak itu jadi dari ibu bapak pula, dan seterusnya. Andaikata betul demikian, tentu akan sampai kepada seorang bapak yang tiada ber-ibu-bapak, dan ibu yang tiada ber-ibu-bapak pula. Maka bagaimanakah orang itu dapat berwujud, apabila tidak ada yang menjadikan?. Andaikatakata betul  anak itu hanya dari buatan bapak dan ibu, mengapa tidak senantiasa sebagaimana terjadi yang diinginkan? Ingin anak , tiada mendapat. Ingin anak perempuan, keluar laki-laki, dan seterusnya.

Kata Kunci :  aksioma, Tuhan, Esa, Wujud.

I.             Pendahuluan
Masalah yang sedang dihadapi umat Islam pada zaman sekarang merupakan masalah yang sangat serius. Disamping masalah pemikiran, problem tentang ketuhanan pun menjadi tantangan yang harus di hadapi oleh umat Islam. masalah dan problem tersebut tidak lepas dari peranan bangsa Barat yang sangat gencar mempengaruhi pemikiran umat Islam. berbagai bidang ilmu pengetahuan barat banyak dimasukan bahkan diaplikasikan dalam keilmuan Islam, diantaranya tentang teologi.
Islam merupakan agama yang mempunyai peradaban ilmu paling maju dan banyak memberikan kontribusi kepada perkembangan ilmu pengetahuan yang ada di Barat. Dalam khazanah ilmu pengetahuan Islam sendiri, terdapat banyak macam bidang ilmu yang merupakan produk asli agama Islam. diantara bidang – bidang ilmu tersebut adalah Ilmu Kalam atau istilah lain adalah teologi dan para teolog Islam biasa disebut dengan mutakallimin atau ahli kalam. Disebut Ilmu Kalam karena ilmu ini membahas tentang kalam atau wahyu Tuhan.
 Adapun kata teologi, merupakan istilah yang diambil dari Yunani dan terdiri dari dua kata yaitu theos yang berarti Tuhan dan logos yang berarti ilmu. Jadi, teologi merupakan ilmu tentang Tuhan atau ilmu ketuhanan. Adapun pokok pembahasan yang ada dalam teologi adalah Tuhan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan-Nya.[1]
II.           Filsafat Ketuhanan
Filsafat Ketuhanan adalah pemikiran tentang Tuhan dengan pendekatan akal budi, maka dipakai pendekatan yang disebut filosofis. Bagi orang yang menganut agama tertentu (terutama agama Islam, Kristen, Yahudi), akan menambahkan pendekatan wahyu di dalam usaha memikirkannya. Jadi Filsafat Ketuhanan adalah pemikiran para manusia dengan pendekatan akal budi tentang Tuhan. Usaha yang dilakukan manusia ini bukanlah untuk menemukan Tuhan secara absolut atau mutlak, namun mencari pertimbangan kemungkinan-kemungkinan bagi manusia untuk sampai pada kebenaran tentang Tuhan
Penelaahan tentang Allah dalam filsafat lazimnya disebut teologi kodrati atau teodise. Hal ini bukan menyelidiki tentang Allah sebagai obyek, namun eksistensi alam semesta, yakni makhluk yang diciptakan, sebab Allah dipandang semata-mata sebagai kausa pertama, tetapi bukan pada diri-Nya sendiri, Allah sebenarnya bukan materi ilmu, bukan pula pada teodise. Jadi pemahaman Allah di dalam agama harus dipisahkan Allah dalam filsafat. Namun pendapat ini ditolak oleh para agamawan, sebab dapat menimbulkan kekacauan berpikir pada orang beriman. Maka ditempuhlah cara ilmiah untuk membedakan dari teologi dengan menyejajarkan filsafat ketuhanan dengan filsafat lainnya (Filsafat manusia, filsafat alam dll). Maka para filsuf mendefinisikannya sebagai usaha yang dilakukan untuk menilai dengan lebih baik, dan secara refleksif, realitas tertinggi yang dinamakan Allah itu, ide dan gambaran Allah melalui sekitar diri kita.[2]
III.         Aliran Teologi dalam Islam
Beberapa aliran yang membahas tentang teologi atau ilmu kalam dalam Islam sangat banyak, diantara aliran – aliran tersebut adalah Khawarij, Jabbariyah, Qadariyah, Shi’ah, Murji’ah, dan Mu’tazilah. Aliran Khawarij berpendapat bahwa mereka mensucikan Dzat Ilahiayah dan menolak sifat – sifat Allah, maka dari itu mereka menyatakan bahwa sifat merupakan Dzat itu sendiri.[3]Adapun aliran Jabbariyah berpandangan bahwa mereka menolak sifat Kalam bagi Allah SWT, karena Kalam merupakan sifat dari makhluk.[4]
Selain dua aliran tersebut ada beberapa aliran yang lain dalam memandang masalah ketuhanan dalam Islam atau ilmu kalam. Aliran tersebut dalah aliran Mu’tazilah yang didirikan oleh Wasil bin Atho’. Dalam masalah ketuhanan mereka mempunyai konsep sendiri, konsep tersebut biasa disebut dengan Al-Usul Al-Khamsah yaitu Tauhid, Al-‘Adlu, Al-Wa’du wa Al-Wa’id, Al-Manzil baina Manzilatain dan Al-Amru bi al-Ma’ruf wa Al-Nahyu ‘An Al-Munkar. Dalam salah satu konsepnya yaitu Tauhid, mereka berbicara banyak tentang ketuhanan. Diantara pendapatnya yaitu الصفات عين الذات: artinya bahwa sifat Allah tidak terpisah dari dzat-Nya. Untuk mempertegas konsepnya ini, Mu’tazilah menjelaskan bahwa الله عالم بالعلم هو هو  artinya Allah Maha Mengetahui dengan ilmu-Nya, sifat ilmu adalah dzat-Nya.[5]
Banyak para ulama yang tidak setuju dengan pendapat yang dimilki oleh Mu’tazilah. Al-Ash’ari membuat rumusan yang lain yaitu الصفات قائمة بالذات أزلية atau diringkaskan لا هي هو ولا هي غيره  artinya bahwa sifat – sifat ilahiyah itu bukan dzat-Nya, dan bukan selain dzat-Nya.[6]Dari pernyataan tersebut timbul pertanyaan, apakah sifat – sifat ilahiyah itu ain dzat, atau di luar dari dzat? Al-Shahrastani menjawab dengan menampilkan perkataan Al-Ash’ari dengan konsepnya yaitu هي هو, ولا غيره, ولا ولاهو, ولا لا غيره  artinya sifat adalah dzat dan bukan yang lainnya, bukan bukan, Ia bukan yang lain.[7]
IV.        Aliran-Aliran dalam Konsep Ketuhanan
Sebelum memasuki kedalam permasalahan tentang ketuhanan, ada baiknya kita sedikit banyak membahas tentang beberapa aliran dalam konsep ketuhanan yang telah berkembang dari satu fase ke fase yang lain. Diantara aliran tersebut adalah Teisme, Tuhan menurut aliran ini berada di alam atau immanent dan Dia juga jauh dari alam atau transendent. Adapun ciri lain dari teisme adalah mereka menegaskan bahwasannya Tuhan setelah proses penciptaan alam selesai, Dia tetap aktif dan selalu memelihara alam. Agama – agama besar pada dasarnya penganut paham teisme, seperti Yahudi, Kristen, dan Islam.[8] Tokoh Kristen yang mengemukakan gagasan ini ialah St. Augustinus. Menurutnya, Tuhan ada dengan sendirinya (self – existing), tidak diciptakan, tidak berubah, abadi, bersifat personal yang terdiri dari tiga person, yaitu Bapak, Anak dan Roh kudus.[9]Konsep teisme dalam Islam dijelaskan oleh Al-Ghazali. Menurutnya, Allah adalah Zat yang Esa dan pencipta alam serta berperan aktif dalam mengendalikan alam. Yang dimaksud Esa menurutnya adalah kembali kepada penetapan dzat-Nya.[10]Dalam Al-Qur’an banyak ayat yang menjelaskan tentang Tuhan yang Esa, diantaranya QS 112: 1 yang artinya “Katakanlah wahai Muhammad, Dia (Allah) adalah satu”. Adapun ayat yang menunjukkan bahwa Allah bersifat transendent dan immanent adalah QS 10: 3 yang artinya “Sesungguhya Tuhan kamu adalah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur semua urusan”
Aliran dalam konsep ketuhanan yang berikutnya adalah Deisme. Menurut paham ini,Tuhan berada jauh di luar alam dan setelah menciptakan alam, Dia tidak memperhatikan alam dan memeliharanya lagi. Alam berjalan sesuai dengan peraturan – peraturan yang telah sempurna yang telah ditetapkan ketika proses penciptaan dan peraturan – peraturan tersebut tidak berubah – ubah. Tokoh yang mempelopori munculnya aliran ini ialah Newton (1642-1727). Menurutnya, Tuhan hanya pencipta alam dan apabila ada kerusakan, alam tidak membutuhkan Tuhan untuk memperbaikinya karena alam sudah memiliki mekanisme sendiri untuk menjaga keseimbangan.[11] 
Aliran yang selanjutnya adalah Panteisme. Aliran ini berpendapat bahwa seluruh alam ini adalah Tuhan dan Tuhan adalah seluruh alam, termasuk benda –benda yang bisa ditangkap oleh panca indra seperti manusia, binatang, tumbuh –tumbuhan, dan benda mati adalah bagian dari Tuhan. Dalam agama Islam, paham ini biasa disebut dengan Wahdatu al-wujud (kesatuan wujud) yang dikenalkan oleh Ibnu al-‘Arabi. Disamping  memiliki persamaan, keduanya juga memiliki perbedaan, yaitu dalam panteisme alam adalah Tuhan dan Tuhan adalah alam akan tetapi dalam wahdatu al-wujud alam bukan Tuhan tetapi bagian dari Tuhan. Bisa disimpulkan bahwa dalam wahdatu al-wujud alam dan Tuhan tidak identik, sedangkan dalam panteisme alam dan Tuhan identik.[12]
V.          Keraguan Terhadap Eksistensi Tuhan
Pada Zaman Pertengahan yaitu antara abad lima belas dan enam belas Masehi, agama Kristen sangat mendominasi bangsa Barat. Dengan sangat otoriternya, mereka menindak para ilmuwan yang berbeda pendapat dengan doktrin Gereja. Diantara para ilmuwan tersebut ialah Nicolaus Copernicus (1473 – 1543) dengan teorinya tentang heliocentris. Dia mengatakan bumi berputar pada porosnya, bahwa bulan berputar mengelilingi matahari dan bumi, serta planet-planet lain semuanya berputar mengelilingi matahari.[13]Akan tetapi teori Copernicus tersebut sangat bertentangan dengan doktrin yang ada dalam ajaran Gereja pada saat itu. Gereja berpendapat bahwa pusat dari tata surya ini adalah bumi atau biasa disebut dengan geocentris. Tepat pada tanggal 24 Mei 1543, Copernicus dijatuhi hukuman mati oleh Gereja karena teorinya bertentangan dengan ajaran Gereja.[14]
Setelah Zaman Pertengahan atau yang biasa disebut dengan Zaman Kegelapan (Dark Ages), muncul periode Pencerahan (Renaissance). Pada periode ini, berbagai ilmu di Barat banyak berkembang dan juga periode ini menandakan awal dari Zaman Modern. Adalah David Hume (1711–1776) tokoh filsafat barat yang yang mengembangkan filsafat Empirisme. Dia berpendapat bahwa manusia tidak perlu mengunyah tafsiran ilmiah tentang realitas serta alasan filosofis untuk mempercayai sesuatu di luar jankauan indra dan Hume membuang argumen yang berusaha membuktikan eksistensi Tuhan dari ketertataan alam, dengan menyatakan bahwa hal itu didasarkan pada argumen analogis yang tidak konklusif.[15]Dengan kata lain, Hume menolak hukum Kausalitas seperti adanya alam ini disebabkan oleh adanya Tuhan.
Selain Empirisme, filsafat Positivisme yang dikembangkan oleh August Comte (1798–1857) pun mempunyai pengaruh besar di Zaman Modern. Menurut Comte, sejarah perkembangan alam pikir manusia terdiri dari tiga tahap, yaitu tahap teologik, tahap metaphisik, dan tahap positif.[16]Dalam pandangannya tentang Tuhan, Comte mempunyai pendapat bahwa agama atau Tuhan tidak bisa dilihat, diukur dan dibuktikan, maka Tuhan tidak mempunyai arti dan faedah karena suatu pernyataan akan dianggap benar oleh positivisme apabila pernyataan itu sesuai dengan fakta.[17]Ludwig Andreas Feuerbach (1804-1872) yang sepaham dengan Comte memiliki pandangan yang lebih positif tentang manusia, ia ingin mencampakan Tuhan yang telah menyebabkan menyebarnya rasa putus asa di masa silam.[18]
Karl Heinrich Mark (1818–1883) tokoh Materialisme dan pencetus Komunisme, memandang agama sebagai desahan makhluk yang tertekan dan candu masyarakat. Selain itu, Mark menegaskan bahwa kepercayaan kepada Tuhan atau dewa – dewa adalah lambang kekecewaan atas kekalahan dalam perjuangan kelas. Kepercayaan tersebut adalah sikap yang memalukan yang harus dienyahkan, bahkan dengan cara paksaan.[19]Dia sendiri mengaku sebagai seorang ateis yang radikal dengan mengatakan “saya membenci segala Tuhan”.[20]Tokoh yang lebih ekstim dalam memandang Tuhan selain Mark adalah Friedrich Wilhelm Nietzsche (1844–1900). Keyakinan yang mendasari Nietzsche adalah bahwa Tuhan telah mati dan segala dewata sudah mati, hanya manusia ataslah yang masih hidup.[21]Dia mengumumkan ini dalam tamsil tentang orang gila yang berlari ke pasar pada suatu pagi, meneriakan, “aku mencari Tuhan!” ketika seorang penonton dengan pongah bertanya ke mana menurutnya Tuhan pergi, apakah Dia melarikan diri atau mungkin pindah?, orang gila itu menatap tajam kearah mereka. “‘Kemana Tuhan pergi?’ dia bertanya.’aku ingin mengatakan kepada kalian, kita telah membunuhnya – aku dan kalian! Kita semua adalah pembunuhnya!”.[22]
VI.        Penutup
Setelah mengenal sedikit banyak tentang aliran - aliran teologi dalam Islam dan beberapa aliran konsep ketuhanan serta pendapat para tokoh Barat dalam memandang Tuhan, maka kita akan mengetahuhi bagaimana konsep ketuhanan yang begitu komplek yang ada dalam Islam dengan berbagai pendapat yang ada di dalamnya, serta pengertian – pengertian dalam konsep ketuhanan yang telah berkembang dari satu fase ke fase yang lainnya dan keraguan serta penolakan terhadap Tuhan. Semuanya menjadi sebuah keberagaman dalam memandang wujud Tuhan. Islam dengan aliran – aliran Kalam dan perbedaan pendapat di dalamnya, mampu mempersatukan umat dibawah naungan ke-Esaan Allah SWT. Teisme, Deisme dan Panteisme mampu memberikan contoh dari pengertian dalam konsep ketuhanan kepada umat Islam agar bisa membedakan satu dengan yang lainnya.
Berbagai disiplin ilmu serta paham ideologi yang berkembang  di Barat banyak ditawarkan kepada umat Islam, menjadi sebuah tantangan dalam memahami arti dari eksistensi Tuhan. Sebagian dari mereka berpandangan bahwa wujud Tuhan tidak benar dan tidak dapat dibuktikan keberadaannya, karena suatu kebenaran diukur dari fakta yang ada. Pencampakan Tuhan serta berkeyakinan kepada-Nya adalah sikap yang memalukan, merupakan suatu problem yang sedang dan akan dihadapi oleh umat Islam di Zaman Modern ini. Untuk membentengi dari itu semua, umat Islam sadar bahwa paham ideologi tersebut berasal dari Barat dan bertolak belakang dengan ajaran Islam yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah. “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalilah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian” (QS 4:59). Wallahul muta’an...






[1] Hamzah Ya’qub, Filsafat Agama Titik Temu Akal dan Wahyu, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1991), 10.
[2]Filsafat Ketuhanan – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, dalam http://www.google.co.id (12 Juli 2012 : 07:29 AM)
[3] Amal Fathullah Zarkasyi,  Ilmu Al- Kalam: Tarikhul Madzahib Al-Islamiyyah wa Qodloyaha Al-Kalamiyyah, (Ponorogo: Darussalam University Press, 2006), 47.
[4] Ibid., 50.
[5] Amal Fathullah Zarkasyi, Konsep Tauhid Dalam Perspektif Filsafat, Ilmu Kalam dan Tasawwuf, (Ponorogo: Fakultas Ushuluddin ISID, 2006), 7.
[6] Ibid., 12.
[7] Ibid., 13.
[8] Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama: Wisata Pemikiran dan Kepercayaan Manusia, (Jakarta: Rajawali Press, 2009), 81.
[9] Norman L. Geisler dan Williams D. Watkins, perspectives Understandingand Evaluating Today’s World Views, (California: Here’s Life Peblisers, Inc, 1984), 23. Lihat juga Ibid., 84.
[10] Amal Fathullah Zarkasyi, ‘Aqidah Al-Tauhd ‘Inda Al-Falasifah wa Al-Mutakallimin wa Al-S{ufiyah, (Ponorogo: Darussalam University Press, 2008), 96.
[11] Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama: Wisata Pemikiran dan Kepercayaan Manusia, 89.
[12] Ibid., 94.
[13] Michael H. Hart, Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, terj: H. Mahbub Djunaidi (Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1982)
[14] Ibid.
[15] Karen Amstrong, Sejarah Tuhan: Kisah Pencarian Tuhan yang dilakukan oleh Orang – Orang Yahudi, Kristen dan Islam, terj: Zaimul Am, (Bandung: Mizan Pustaka, 2007), 441.
[16] Muhammad Muslih, Filsafat Ilmu: Kajian atas Asumsi Dasar Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan, (Yogyakarta: Belukar, 2004), 109.
[17] Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama: Wisata Pemikiran dan Kepercayaan Manusia,116.
[18] Karen Amstrong, Sejarah Tuhan: Kisah Pencarian Tuhan yang dilakukan oleh Orang – Orang Yahudi, Kristen dan Islam, 451.
[19] Daniel L. Pals, Dekonstruksi kebenaran: Kritik Tujuh Teori Agama, terj: Inyiak Ridwan Munir (Yogyakarta: IRCiSoD, 2005), 201.
[20] Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama: Wisata Pemikiran dan Kepercayaan Manusia, 124-125.
[21] Ali Mudhofir, Kamus Filsafat Barat, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar), 375.
[22] Karen Amstrong, Sejarah Tuhan: Kisah Pencarian Tuhan yang dilakukan oleh Orang – Orang Yahudi, Kristen dan Islam, 458.

Daftar Pustaka
Amstrong, Karen, Sejarah Tuhan: Kisah Pencarian Tuhan yang dilakukan oleh Orang – Orang Yahudi, Kristen dan Islam, terj: Zaimul Am, (Bandung: Mizan Pustaka, 2007).
Bakhtiar, Amsal, Filsafat Agama: Wisata Pemikiran dan Kepercayaan Manusia, (Jakarta: Rajawali Press, 2009).
Geisler, Norman L. dan Williams D. Watkins, perspectives Understandingand Evaluating Today’s World Views, (California: Here’s Life Peblisers, Inc, 1984).
Hart, Michael H., Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, terj: H. Mahbub Djunaidi (Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1982).
Muslih, Muhammad, Filsafat Ilmu: Kajian atas Asumsi Dasar Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan, (Yogyakarta: Belukar, 2004).
Pals, Daniel L., Dekonstruksi kebenaran: Kritik Tujuh Teori Agama, terj: Inyiak Ridwan Munir (Yogyakarta: IRCiSoD, 2005).
Ya’qub, Hamzah, Filsafat Agama Titik Temu Akal dan Wahyu, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1991).
Zarkasyi, Amal Fathullah,  Ilmu Al- Kalam: Tarikhul Madzahib Al-Islamiyyah wa Qodloyaha Al-Kalamiyyah, (Ponorogo: Darussalam University Press, 2006).
Zarkasyi, Amal Fathullah, ‘Aqidah Al-Tauhd ‘Inda Al-Falasifah wa Al-Mutakallimin wa Al-S{ufiyah, (Ponorogo: Darussalam University Press, 2008).
Zarkasyi, Amal Fathullah, Konsep Tauhid Dalam Perspektif Filsafat, Ilmu Kalam dan Tasawwuf, (Ponorogo: Fakultas Ushuluddin ISID, 2006).
Filsafat Ketuhanan – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, dalam http://www.google.co.id (12 Juli 2012 : 07:29 AM).

Muhammad Iqbal dan Filsafatnya “Eksistensialisme” (Filsafat Islam)

Muhammad Iqbal dan Filsafatnya “Eksistensialisme”

Abstrak
Religisiutas sebagai sarana mencapai eksistensi menurut filsafat Muhammad Iqbal. Sebuah kajian eksistensialisme kritik Iqbal tentang fatalisme Islam dan Materialisme Barat Modern. Manusia sebagai makhluk eksistensial dituntut untuk memenuhi eksistensi dirinya, bersifat aktif, dinamis, dan kuat. Manusia tidak seharusnya pasif, statis, bahkan menarik diri dari kepentingan duniawi dan tunduk secara buta pada ajaran tertentu. Materialisme Barat Modern telah menghilangkan metafisika dan mengakibatkan timbulnya krisis eksistensial manusia, alienasi, dan dehumanisasi.

Kata Kunci : Eksistensialisme, Fatalisme, Materialisme, Alienasi, Dehumanisasi

I.             Pendahuluan

Hancurkan dunia sampai berkeping-keping

bila tidak sesuai denganmu

Dan ciptakan dunia yang lain dari kedalaman wujudmu
Betapa pedihnya manusia merdeka yang hidup
di dunia yang diciptakan oleh manusia lain
(Muhammad Iqbal)[1]
Shair Iqbal di atas merupakan ekspresi kegeramannya menyaksikan umat Islam yang kehilangan kemerdekaan untuk menjadi diri sendiri dan larut dalam dunia yang diciptakan orang lain. Shair itu harus dimaknai secara filosofis dalam arti bahwa Iqbal menyuarakan pesan universal bagaimana seharusnya cara berada seorang individu dan sekaligus komunitas Muslim.  Sebagai filsuf eksistensialis, Iqbal menghendaki kaum Muslimin untuk memiliki kepribadian dan karakter yang terhormat dan agung karena Islam telah memuliakan mereka sebagai umat terbaik (khairu ummah).  Dia berseru kepada umat Islam,
Bangkitlah, ciptakan dunia baru
Bungkus dirimu dalam api, dan jadilah seorang Ibrahim
Jangan mau tunduk kepada apapun kecuali Kebenaran
Ia akan menjadikanmu seekor singa jantan
Seruan kebangkitan Islam yang disuarakan oleh Muhammad Iqbal (1873-1938) melalui puisi-puisnya adalah upayanya membangunkan kesadaran kaum Muslimin untuk memiliki jati diri dan identitas keislaman agar potensi-potensi kemanusiaan mereka berkembang.  Puisi Iqbal merupakan manifestasi pemikiran filosofisnya yang mendesak individu-individu Muslim untuk merekonstruksi diri agar sejalan dengan amanah Tuhan sebagai khalifahNya di muka bumi. Murtadha Muthahhari (1919-1979) menyebutkan bahwa inti pemikiran Iqbal adalah ‘penyadaran diri’. Tetapi konsep ‘diri’ yang disasar iqbal tak terbatas hanya pada level individu tetapi juga meliputi diri umat karena sebuah komunitas serupa dengan individu yang memiliki ruh dan kepribadian.  Menurut Iqbal, kaum Muslimin terlarang untuk menjadi umat pembeo, pengekor, peniru yang tak kreatif, dan lemah tak berdaya menghadapi gempuran sistem nilai-nilai asing yang menggerogoti keIslaman dan kemanusiaan mereka. Dengan lantang Iqbal berseru,
Jangan hinakan pribadimu dengan imitasi
Bangunlah, hai kau yang asing terhadap rahasia kehidupan
Nyalakan api yang tersembunyi dalam debumu sendiri
Wujudkan dalam dirimu sifat-sifat Tuhan
Maka di dalam makalah yang sederhana ini, akan mencoba memberikan gambaran pendapat Mohammad Iqbal tentang Filsafatnya yang berkaitan dengan eksistensiliasme.


II.           Biografi Muhammad Iqbal
Iqbal dilahirkan di Sialkot-India (suatu kota tua bersejarah di perbatasan Punjab Barat dan Kashmir) pada tanggal 22 Februari 1873/ 2 Dhulhijjah 1289[2] dan wafat ketika fajar 21 April 1938, dalam usia 60 tahun menurut kalender Masehi, atau 63 tahun menurut kalender Hijri. Ia terlahir dari keluarga miskin, tetapi berkat bantuan beasiswa yang diperlolehnya dari sekolah menengah dan perguruan tinggi, ia mendapatkan pendidikan yang bagus. Setelah pendidikan dasarnya selesai di Sialkot ia masuk Government College (sekolah tinggi pemerintah) Lahore. Iqbal menjadi murid kesayangan dari Sir Thomas Arnold.  Iqbal lulus  pada tahun 1897 dan memperoleh beasiswa serta dua medali emas karena baiknya bahasa inggris dan arab, dan pada tahun 1909 ia mendapatkan gelar M.A dalam bidang filsafat.[3]
Ia lahir dari kalangan keluarga yang taat beribadah sehingga sejak masa kecilnya telah mendapatkan bimbingan langsung dari sang ayah Syekh Mohammad Noor dan Muhammad Rafiq kakeknya.[4] Dan Iqbal dimasukkan oleh ayahnya ke Scotch Mission College di Sialkot agar ia mendapatkan bimbingan dari Maulawi Mir Hasan teman ayahnya yang ahli bahasa Persia dan Arab. Pendidikan dasar sampai tingkat menengah ia selesaikan di Sialkot untuk kemudian melanjutkan ke Perguruan Tinggi di Lahore (salah satu kota di India yang menjadi pusat kebudayaan , pengetahuan, dan seni) di tahun 1895 di Lahore inila dia bertemu dengan Sir Thomas Arnold, pada tahun 1905 ia studi di Cambridge-Inggris, ia berguru pada R.A Nicholson, seorang spesialis dalam sufisme, dan seorang Neo-Hegelian, yaitu John M.E. Mc Taggart, dan terakhir di Munich-Jerman ia menyelesaikan doktornya pada tahun 1908 dengan mengajukan tesis dengan judul The Development Of Metaphysics in Persia disertasi ini ia persembahkan kepada gurunya Sir Thomas Arnold. Sekembalinya dari Eropa tahun 1909 ia diangkat menjadi Guru Besar di Lahore dan sempat menjadi pengacara.[5]
Pada tahun 1922 seorang wartawan Inggris mengusulkan kepada pemerintahnya untuk member gelar Sir kepada Iqbal. Iqbalpun mendapat undangan penguasa Inggris untuk pertama kalinya. Mula-mula ia menolak undangan itu, tetapi ata dorongan sahabatnya, Mirza Jalaluddin, akhirnya ia memenuhi. Gelar Sir  ia terima dengan syarat gurunya, Mir Hasan, yang ahli tentang sastra Arab dan sastra Persia juga mendapat gelar Shams al-Ulama. Sebetulnya gurunya gurunya itu tidak begitu terkenal dan patut diberi gelar demikian, namun Iqbal tetap bersikeras dengan syarat yang ia ajukan. Akhirnya syaratnya itu diterima oleh penguasa Inggris.[6]
Saat-saat Pakistan masih memerlukan karya-karyanya, pada tahun 1935 istrinya meninggal dunia. Musibah ini membekas sangat mendalam dan membawa kesedihan yang berlarut-larut kepada Iqbal. Dan berbagai penyakitpupun menimpa Iqbal sehingga fisiknya semakin lemah. Sungguhpun demikian, pikiran dan semangat Iqbal tidak pernah mengenal lelah. Ia tiada henti-hentinya mengubah sajak-sajak dan terus menuliskan pemikiran-pemikirannya. Pada tahun 1938 sakitnya bertambah parah, ia merasa ajalnya telah dekat, namun Iqbal masih menyempatkan diri berpesan kepada sahabat-sahabatnya.[7]
Kukatakan kepadamu tanda seorang Mu’min
Bila maut datang, akan merekah senyum di bibir.
Akhirnya Sebagai seorang pemikir, tentu tidak dapat sepenuhnya dikatakan bahwa gagasan-gagasannya atau pemikirannya tanpa dipengaruhi oleh pemikir-pemikir sebelumnya. Iqbal hidup pada masa kekuasaan kolonial Inggris. Pada masa ini pemikiran kaum muslimin di anak benua India sangat dipengaruhi oleh seorang tokoh religius yaitu Syah Waliyullah Ad-Dahlawi[8] dan Sayyid Ahmad Khan.[9] Keduanya adalah sebagai para pemikir muslim pertama yang menyadari bahwa kaum muslimin tengah menghadapi zaman modern yang didalamnya pemahaman Islam mendapat tantangan serius dari Inggris. Terlebih ketika Dinasti Mughal terakhir di India ini mengalami kekalahan saat melawan Inggris pada tahun 1857, juga sangat mempengaruhi 41 tahun kekuasaan Imperium Inggris[10] dan bahkan pada tahun 1858 British East India Company dihapus dan Raja Inggris bertanggungjawab atas pemerintah imperium India.[11]
Adapun karya-karya Iqbal diantaranya adalah:
‘Ilm al-Iqtis{a>d (1903), Devlopment of Metaphyiscs in Persia (1908), Islam as Moral and Political Ideal (1909), Asrar-i-Khudi (Rahasia-rahasia Diri/ Rahasia Pribadi) ; (1915), Rumuz-i-Bekhudi (Rahasia-rahasia Peniadaan Diri ) ; (1918), Payam-i-Mashriq (Pesan Dari Timur) ; (1923), Bang-i-dara (Genta Lonceng/ Seruan dari Perjalanan) ; (1924), Self in the Light of Relativy Speeches and Statements of Iqbal (1925), Zaboor-i-'Ajam (Taman Rahasia Baru/ Kidung Persia) ; (1927), Khusal Khan Khattak (1928), A Plea Deeper Study of Muslim Scientist (1929), Presidential Address to the All-India Muslim Leaque (1930), Javid Nama (Kitab Keabadian) ; (1932), Lectures on the Reconstruction of Religius Thought in Islam (1934), Letter of Iqbal to Jinnah (1934), Bal-i-Jibril (Sayap Jibril) ;
(1935), Pas Cheh Bayad Kard Aye Aqwam-i-Sharq (Apakah Yang Akan Kau Lakukan Wahai Rakyat Timur?) ; (1936), Musafir Nama/ Mathnawi Musafir (1936), Zarb-i-Kalim (Pukulan Tongkat Nabi Musa) ; (1936),  Armughan-i-Hejaz (Hadiah Dari Hijaz) ; (1938), dan A Contibution to the History of Muslim Philosopy.[12]
III.         Filsafat Iqbal
Menurut Dr. Syed Zafrullah Hasan dalam pengantar buku Metafisika Iqbal yang ditulis oleh Dr. Ishrat Hasan Enver, Iqbal memiliki beberapa pemikiran yang fundamental yaitu intuisi, diri, dunia dan Tuhan. Baginya Iqbal sangat berpengaruh di India bahkan pemikiran Muslim India dewasa ini tidak akan dapat dicapai tanpa mengkaji ide-idenya secara mendalam.[13]
Namun dalam tataran praktek, Iqbal secara konkrit, yang diketahui dan difahami oleh masyarakat dunia dengan bukti berupa literature-literatur yang beredar luas, justru dia adalah sebagai negarawan, filosof dan sastrawan. Hal ini tidak sepenuhnya keliru karena memang gerakan-gerakan dan karya-karyanya mencerminkan hal itu. Dan jika dikaji, pemikiran-pemikirannya yang fundamental (intuisi, diri, dunia dan Tuhan) itulah yang menggerakkan dirinya untuk berperan di India pada khususnya dan dibelahan dunia timur ataupun barat pada umumnya baik sebagai negarawan maupun sebagai agamawan. Karena itulah ia disebut sebagai Tokoh Multidimensional.[14]
Dengan latar belakang yang cukup unik di atas penulis dalam makalah ini akan memaparkan gagasan-gagasan Iqbal yang berkaitan dengan pemikiran filsafatnya sub bahasan eksistensialisme dalam tiga hal yaitu: Ego dan Khudi, Ketuhanan, Insan Kamil.
3.1.  Ego dan Khudi
Khudi dalam bahasa Parsi berarti pribadi.[15] Yaitu pribadi-pribadi yang sempurna. Sedangkan yang dimaksud Iqbal di sini adalah usaha menjadikan diri Individu yang selalu di liputi sifat-sifat Tuhan yang sempurna. Ini terlihat ketika Iqbal melukiskan kejayaan pribadi dan jalan hidup nabi Muhammad. Yang mana dalam tafsir sajaknya bahwa untuk perkembangan sewajarnya dari setiap muslim dirindukannya suatui masyarakat menurutr acuan Islam, dan setiap muslim yang berusaha akan menjadikan dirinya Individu yang sempurna turut membina kerajaan Islam dibumi ini.
Syarat-syarat untuk masyarakat Islam itu dilukiskan Iqbal dalam kumpulan syairnya yang kedua, yakni: Rumuz -i-bekhudi, yang diterbitkan sesudah Asrar –i-khudi. Dalam buku kumpulan syair Rumuz –i-bekhudi itu Iqbal melukiskan bahwa orang yang dapat menafikan dirinya sendiri dalam masyarakat, membayangkan yang silam dan yang akan datang sebagai suatu satuan di dalam cermin, dapatlah dia mengatasi sang ajal dan masuk kedalam hidup ke Islaman yang bersifat abadi dan tidak terbatas. Diantara acara-acara terpenting yang abadi dan tak terbatas. Diantara acara-acara terpenting yang didendangkan Iqbal ialah: asal-usul masyarakat, pemimpinan Tuhan pada manusia dengan perantaraan para nabi. Pembentukan pusat –pusat hidup kolektif dan nilai sejarah sebagai faktor penting untuk menetapkan tanda tersendiri dalam sesuatu bangsa.[16]
Khudi yakni ego yang hendak menangkap Ego yang besar oleh kian membulatnya dirinya sendiri. Pribadi bukanlah lagi ada dalam waktu, tetapi waktu sendiri sudah menjadi dinamisme pribadi. Pribadi atau khudi itu ialah action ialah hidup dan hidup ialah pribadi.[17]
Tuhan menjelmakan sifat-sifatnya bukanlah di alam ini dengan sempurna tetapi pada para pribadi sehingga mendekati Tuhan berarti menumbuhkan sifat-sifatNya dalam diri, yang sebenarnya sesuai dengan hadist rasullah s.a.w: Takhallaqu bi akhlaqi’llah, tumbuhkanlah dalam dirimu sifat-sifat Allah. Jadi mencari Tuhan bukanlah dengan jalan merendah-rendahkan diri atau meminta-minta, tetapi dengan himmah tenaga yang berkobar-kobar mejelmakan sifat-sifat uluhiyyah (ketuhanan) dalam diri kita dan kepada masyarakat ramai. Tegasnya mendekati Tuhan ialah menyempurnakan diri pribadi insan, memperkuat iradah atau kemauannya.[18]
Maka menurut Iqbal pribadi sejati adalah bukan yang menguasai alam benda tetapi pribadi yang dilingkupi Tuhan kedalam khuduinya sendiri. Maka sifat dan pikiran pribadi atau khudi ialah:
1.      Tidak terikat oleh ruang sebagaimana halnya dengan tubuh.
2.      Hanyalah lanjutan masa mengenai kepribadian
3.      Kepribadian pada asasnya tersendiri dan Unik.[19]
Sedangkan cita tentang pribadi itu memberikan kepada kita ukuran yang sebenarnya, diselesaikannya soal buruk dan baik. Hal-hal yang memperkuat pribadi bagi Iqbal Ialah:
1.      ‘Isyq-o-muhabbat, yakni cinta kasih.
2.      Faqr yang artinya sikap tak peduli terhadap apa yang disediakan oleh dunia ini, sebab bercita-cita yang lebih agung lagi.
3.      Keberanian
4.      Sikap tenggang rasa (tolerance)
5.      Kasb-i-halal yang sebaik-baiknya terjalin dengan hidup dengan usaha dan nafkah yang sah.
6.      Mengerjakan kerja kreatif dan asli. [20]
3.2.  Ketuhanan
Filsafat Iqbal tentang tuhan dapat dibagi dalam tiga fase. Adapun dasar yang dipakai dalam pengelompokan tersebut adalah keaslian dan keterpengaruhan pemikiran Iqbal tersebut mengenai konsepsi Tuhan. Fase pertama berlangsung mulai dari tahun 1901M hingga kira-kira tahun 1908M, pada tahap ini Iqbal cenderung sebagai mistikus-panteistik. Hal itu terlihat pada kekagumannya pada konsepsi mistik yang berkembang di wilayah Persia, lewat tokoh-tokoh tasawuf falsafi, seperti Ibnu ‘arabi. Puncak kekagumannya itu tergambar dalam disertasi doktornya, berjudul Development of Metaphysics in Persia: a Constribution to the History of Muslim Philosophy. Pada fase ini Iqbal meyakini Tuhan sebagai suatu Keindahan yang abadi, keberadaan-Nya tanpa tergantung pada sesuatu dan mendahului segala sesuatu bahkan menampakkan diri dalam semuanya itu. Ia menyatakan dirinya di langit dan di bumi, di matahari dan di bulan, pada kerlap kerlip bintang –bintang dan jatuhnya embun di tanah dan di laut, di api dan nyalanya, di batu-batu dan pepohonan, pada burung-burung dan binatang buas, di wewangian dan nyanyian, di semua tempat dan keadaan.
Demikianlah, Tuhan sebagai keindahan Abadi adalah penyebab gerak segala sesuatu. Kekuatan pada benda-benda, daya tumbuh pada tanaman, naluri pada binatang buas dan kemauan pada manusia hanyalah sekedar bentuk daya tarik ini, cinta untuk Tuhan ini. Karena itu, Keindahan Abadi adalah sumber, essensi dan ideal segala sesuatu. Tuhan bersifat universal dan melingkupi segalanya seperti lautan, dan individu adalah seperti halnya setetes air. Demikianlah, Tuhan adalah seperti matahari dan individu adalah seperti lilin, dan nyala lilin hilang di tengah cahaya. Seperti balon atau bunga api, kehidupan ini bersifat sementara tidak hanya itu bahkan keseluruhan wujud atau eksistensi adalah suatu yang fana.[21]
Secara umum telah dikemukakan tentang kosepsi Iqbal tentang Tuhan pada fase pertama seperti termuat diatas. Pemikiran seperti itu tidak sulit dicari sumbernya, pada dasarnya pemikiran seperti itu bersifat platonis. Plato juga menganggap Tuhan sebagai Keindahan yang Abadi, sebagai alam universal yang medahului segala sesuatu serta terwujud pada kesemuanya itu sebagai bentuk. Plato juga menganggap, Tuhan sebagai ideal tujuan manusia. Ia juga memisahkan cinta dari pengertian seks dan memberinya makna universal, konsep platonis ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Platonis diambil alih oleh kaum skolastik Muslim awal dan dicangkokkan ke dalam pantheisme oleh para mistiukus patheistis,  menurut Iqbal suatu tradisi lama dalam puisi, parsi dan urdu ditambah lagi lewat studinya atas puisi-puisi romantis Inggris. Sehingga dapat dikatakan konsepsi Iqbal mengenai Tuhan pada fase pertama ini tidak asli. Secara sederhana ia menunjukkan kepada kita apa yang ia terima sebagai warisan sejarah lewat kata-kata yang Indah. Ia menjadikan ide keTuhanan ini sebagai bahan puisi-puisinya dengan berbagai cara baru.
Masa kedua perkembangan pemikiran Iqbal bermula kira-kira tahun 1908-1920 M. kunci untuk memahami masa ini adalah perubahan sikap Iqbal kearah perbedaan yang ia tarik antara keindahan sebagaimana tampak pada segala sesuatu,[22] disatu pihak dan cinta kepada keindahan dipihak lain. Sebagaimana telah dicatat bahwa Iqbal menyebut keindahan sebagai sesuatu yang kekal dan efisien serta kausalitas akhir dari segala cinta, gerakan dan keinginan. Tetapi pada masa kedua, sikap ini mengalami perubahan.
Pertama, suatu kesangsian dan kemudian berubah menjadi semacam pesimisme yang menyelinap ke dalam dirinya mengenai sikap kekal dari keindahan dan efisiensinya serta kausalitas. Pada fase ini pemikirannya dibimbing oleh konsep tentang pribadi(self) yang dianggap sebagai pusat dinamis dari hasrat, upaya, aspirasi, usaha ,keputusan ,kekuatan dan aksi. Pribadi tidak maujud dalam waktu, melainkan waktulah yang merupakan dinamisme dari pribadi. Pribadi adalah aksi yang seperti pedang merambah jalannya dengan menaklukkan kesulitan, halangan dan rintangan. Waktu sebagai aksi adalah hidup dan hidup adalah pribadi karena itu waktu hidup dan pribadi ketiganya dibandingkan dengan pedang.[23]
Yang disebut dengan dunia luar dengan segala macam kekayaannya yang menggairahkan termasuk ruang dan waktu serial dan apa yang disebut dengan dunia perasaan, ide-ide dan ideal-ideal keduanya adalah ciptaan pribadi mengikuti fichte dan ward, Iqbal menyatakan kepada kita bahwa pribadi menuntut dari dirinya sendiri sesuatu yang bukan pribadi demi kesempurnaannya sendiri. Dunia yang terindera adalah ciptaan pribadi. Karena itu segala keindahan alam merupakan bentukan hasrat-hasrat kita sendiri. Hasrat menciptakan mereka,bukannya mereka yang mempunyai hasrat.[24]
Tuhan sang hahekat terakhir adalah pribadi mutlak, ego tertinggi. Ia tidak lagi dianggap sebagai keindahan luar. Tuhan kini dianggap sebagai kemauan abadi dan keindahan disusutkan menjadi suatu sifat Tuhan, menjadi sebutan yangs ekarang mencakup nilai-nilai estetisdan nilai-nilai moral sekaligus. Disamping keindahan Tuhan, pada tahap ini keesaan tampak menunjukkan nilai pragmatis yang tinggi karena ia memberi kesatuan tujuan dan kekuatan pada individu, bangsa-bangsa dan manusia sebagai keseluruhan kekuatan yang mengikat, menciptakan hasrat yang tak kunjung padam, harapan dan aspirasi dan menghilangkan semua rasa gentar dan takut kepada yang bukan Tuhan.[25]
Tuhan menyatakan dirinya bukan dalam dunia yang indera melainkan dalam pribadi terbatas, dan karenma itu usaha mendekatkan diri padanya hanya akandimungkinkan lewat pribadi. Dengan demikian mencari tuhan bersifat kondisional terhadap pencarian diri sendiri. Demikian pula tuhan tidak bisa diperoleh dengan meminta-minta dan memohon semata-mata karena hal seperti itu menunjukkan kelemahan dan ketidak berdayaan. Mendekati tuhan menurutnya harus konsisten dengan kekuatan dan kemauan sendiri. Ia harus menangkap Dia dengan cara sama seperti seorang pemburu menangkap buruannya. Tetapi Tuhan juga menginginkan diriNya tertangkap. Ia mencari manusia seperti manusia mencari Dia. Dengan menemukan Tuhan seseorang tidak boleh membiarkan dirinya terserap ke dalam Tuhan dan menjadi tiada. Sebaliknya manusia harus menyerap Tuhan ke dalam dirinya, menyerap sebanyak mungkin sifat-sifatNya dan kemungkinan ini tidak terbatas. Dengan menyerap tuhan kedalam diri maka tumbuhlah ego. Ketika ego tumbuh menjadi super ego, ia naik ketingkat wakil Tuhan.[26] Singkat kata pada fase ini Iqbal mulai menyangsikan tentang sifat kekal dari keindahan dan efisiensinya, serta kausalitasnya akhirnya. Sebaliknya tumbuh keyakinan akan keabadian cinta, hasrat, dan upaya atau gerak. Kondisi ini tergambar dalam karyanya, Haqiqat-i Husna (Hakikat Keindahan). Pada tahap ini Iqbal tertarik kepada Rumi yang dijadikannya sebagai pembimbing rohaninya. Pada tahap ini, Tuhan bukan lagi dianggap sebagai Keindahan Luar, tetapi sebagai Kemauan Abadi, sementara keindahan hanyalah sebagai sifat Tuhan di samping ke Esaan Tuhan. Karena itu, Tuhan menjadi asas rohaniah tertinggi dari segala kehidupan (the ultimate spiritual basis of all life). Tuhan menyatakan diriNya bukan dalam dunia yang terindera, tetapi dalam pribadi terbatas. Karena itu usaha mendekatkan diri kepada-Nya hanya dimungkinkan lewat pribadi. Dengan menemukan Tuhan, seseorang tidak boleh membiarkan dirinya terserap ke dalam Tuhan dan menjadi tiada. Sebaliknya, manusia harus menyerap Tuhan ke dalam dirinya, menyerap sebanyak mungkin sifat-sifatNya, dan kemungkinan ini tidak terbatas. Dengan menyerap Tuhan ke dalam diri, tumbuhlah ego. Ketika ego tumbuh menjadi super ego, ia naik ke tingkat wakil Tuhan.  
Masa ketiga perkembangan mental dan pemikiran Iqbal dimulai sejak tahun 1920 hingga tahun 1938 dimana tahun wafatnya Iqbal. Masa ketiga ini dianggap sebagai masa kedewasaan dari pemikiran Iqbal itu sendiri. Ia mengumpulkan unsur-unsur dari sintesisnya dan kini menghimpunnya dalam suatu sistem yang menyeluruh. Menurutnya Tuhan adalah hakikat sebagai suatu keseluruhan dan hakikat sebagai suatu keseluruhan pada dasarnya bersifat spiritual dalam artian suatu Individu dan suatu ego. Ia dianggap sebagai ego karena seperti manusia, Dia adalah suatu prinsip kesatuan yang mengorganisasi, suatu paduan yang terikat satu sama lain yang berpangkal pada fitrah kehidupan organisme-Nya untuk suatu tujuan konstruktif. Ia adalah ego karena menanggapi refleksi kita. Karena ujian yang paling nyata pada suatu pribadi adalah apakah ia memberi tanggapan kepada panggilan pribadi yang lain.[27] Tepatnya, Dia bersifat mutlak karena Dia meliputi segalanya, dan tidak ada sesuatu pun diluar Dia.
Ego mutlak tidaklah statis seperti alam semesta sebagaimana dalam pandangan Aristoteles. Dia adalah jiwa kreatif, kemauan dinamis atau tenaga hidup dan karena tidak ada sesuatu pun selain Dia yang bisa membatasiNya, maka sepenuhnya Dia merupakan jiwa kreatif yang bebas. Dia juga tidak terbatas. Tetapi sifat tidak terbatasNya bukanlah dalam arti keruangan, karena ketidak terbatasan ruang tidak bersifat mutlak. Ketidak terbatasan Nya bersifat intensif bukan ekstensif dan mengandung kemungkinan aktivitas kreatif yang tidak terbatas. Tenaga hidup yang bebas dengan kemungkinan tak terbatas mempunyai arti bahwa Dia Maha Kuasa.Dengan demikian Ego terakhir adalah tenaga yang maha kuasa, gerak kedepan yang merdeka,suatu gerak kreatif.[28]
3.3.  Insan Kamil
Manusia adalah misteri terbesar yang diciptakan Tuhan di dunia, padanya Tuhan tidak hanya membentuk sesuai dengan citra-Nya, akan tetapi sudah menjadi kehendak-Nya bahwa manusia akan menjadi mitra kerja-Nya di dunia. Pengertian manusia adalah pemahaman secara menyeluruh menyangkut aspek ruhani dan jasmani serta tidak dapat dipisah-pisah antara satu dan lainnya, karena keduanya bersama-sama ada dan merupakan suatu keutuhan dan keseluruhan baru, yang merupakan diri yang selalu hidup, serba lain dari pada hidup raga saja atau jiwa saja dalam dirinya sendiri, dan penyatuan antara keduanya merupakan kekuasaan Tuhan. Allah, dalam al-Qur’an secara sederhana menggambarkan keunikan serta kelebihan manusia daripada ciptaan Tuhan yang lain. Hubungan antara pikiran dan tindakan yang membentuk kesatuan kesadaran manusia yang menjadi pusat kepribadiannya merupakan ciri khas individualitas manusia. Hal inilah yang menjadi ukuran kesempurnaan manusia sebagai khalifah Allah di bumi.[29]
Dalam sejarah pemikiran, baik dalam kajian filsafat manusia maupun tasawuf manusia merupakan kajian yang selalu menarik untuk di kaji, dari hal ini kajian manusia ideal dalam pandangan Iqbal merupakan hal yang tidak dapat di hindari dalam memandang manusia baik dari perspektif filsafat, tasawuf, dan agama. Manusia ideal dalam pandangan Iqbal merupakan manusia yang mempunyai kesucian ruhani yang mampu menyerap sifat-sifat Tuhan ke dalam dirinya (ego kecil), sehingga dengan menyerap sifat-sifat Tuhan ke dalam dirinya, di harapkan mampu mengantarkan dirinya pada kualitas manusia sempurna (insan kamil). Disamping itu pula manusia harus mampu mewujudkan dan mengaplikasikan sifat-sifat Tuhan ke dalam kehidupannya. Di sinilah Iqbal memandang manusia ideal merupakan puncak dari segala kehidupan yang di inginkan oleh Tuhan. Dengan mengemban sebuah amanah sehingga pantas manusia mendapatkan gelar sebagai khalifah Allah di bumi.[30]
Manusia sebagai individualitas yang unik yang memungkinkan seseorang untuk memikul beban orang lain, dan menamainya hanya berkenaan dengan apa yang telah diusahakan, karena Qur’an diarahkan untuk menolak ide tentang penebusan. Apapun pandangan kita tentang diri perasaan, identitas diri, jiwa, kemauan hanya dapat diuji dengan peraturan-peraturan pikiran yang di dalam cirinya bersifat hubungan, dan “semua hubungan melibatkan pertentangan”.[31]
Dengan mudah kita dapat mengakui bahwa ego, dalam keterbatasannya, tidak sempurna sebagai kesatuan kehidupan. Ego mengungkap ego itu sendiri sebagai kesatuan dari apa yang kita namakan keadan mental. Keadaan mental tidak berada dalam tempat yang saling terpisah. Keadaan-keadaan mental saling berarti dan saling berkaitan, atau katakanlah peristiwa-peristiwa merupakan jenis kesatuan yang khusus. Secara mendasar hal ini berbeda dengan kesatuan material; karena kesatuan material dapat berada pada tempat yang saling terpisah. Kesatuan mental benar-benar unik. Kita tidak dapat mengatakan bahwa salah satu kepercayaan diletakkan di sebelah kanan atau sebelah kiri kepercayaan saya yang lain. Oleh karena itu ego tidak terbatas pada ruang, sedang tubuh terbatas oleh ruang. Peristiwa fisik dan mental berada dalam waktu, tetapi waktu ego secara mendasar berbeda dengan waktu peristiwa fisik. Durasi waktu fisik dibentangkan dalam ruang sebagai fakta sekarang; durasi ego dikonsentrasikan di dalamnya dan dicakup dengan masa sekarang dan masa depannya dengan cara yang unik.[32]
Ciri penting yang lain dari kesatuan ego merupakan privasinya yang mendasar yang mengungkap keunikan setiap ego. Untuk mencapai kesimpulan yang pasti, semua premis silogisme harus diyakini oleh seseorang dan akal yang sama. Jika saya percaya kata-kata “ semua laki-laki adalah makhluk hidup” dan akal yang lain percaya kata-kata “Socrates adalah seorang laki-laki”, tidak ada kesimpulan yang mungkin. Hanya memungkinkan jika saya percaya kedua dalil tesebut. Lagi, hasrat saya terhadap sesuatu yang pasti pada dasarnya milik saya.[33]
Bentuk lain pembuatan manusia sebelumnya “ mengembangkan dasar organisme fisik – kumpulan sub ego yang lebih mendalam yang bertindak dalam diri saya, dan membiarkan saya untuk membangun kesatuan pengalaman yang sistematis. Sesuatu yang lain di luar saya dikira memiliki sifat-sifat tertentu yang dinamakan  dasar, mengacu pada sensasi tertentu dalam diri saya, dan saya membenarkan kepercayaan saya tentang sifat-sifat tersebut dengan dasar penyebab harus memiliki kemiripan dengan pengaruhnya. Tetapi tidak perlu ada kemiripan antara sebab dan pengaruhnya.[34]
Manusia punya aspek ruang tetapi ini bukan aspek manusia saja. Ada aspek alain selain aspek manusia, yaitu penilaian, karakter kesatuan dari pengalaman yang bertujuan, dan pencarian kebenaran yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan dari studinya, serta pengertian yang memerlukan kategori-kategori lain yang disiratkan oleh ilmu pengetahuan.[35]
Manusia Asamu hidupku! Seluruh kehidupanmu, seperti jam waktu, akan selalu baru, dan akan terus berlalu. Di dalam lingkaran ini, engkau hanyalah sebutir pasir, akan terus bersinar tanpa kesudahan!
IV.        Penutup
Iqbal adalah seorang intelektualis asal Pakistan telah melahirkan pemikiran dan peradaban besar bagi generasi setelahnya . Iqbal merupakan sosok pemikir multi disiplin. Ia adalah seorang sastrawan, negarawan, ahli hukum, filosof, pendidik dan kritikus seni. Menilai kepiawaiannya yang multidisiplin itu, pak Natsir mengatakan "tentulah sukar bagi kita untuk melukiskan tiap-tiap aspek kepribadian Iqbal. Jiwanya yang piawai tidak saja menakjubkan tetapi juga jarang ditemui".[36]
Islam sebagai way of life yang lengkap mengatur kehidupan manusia, ditantang untuk bisa mengantisipasi dan mengarahkan gerak perubahan tersebut agar sesuai dengan kehendak-Nya. Oleh sebab itu hukum Islam dihadapkan kepada masalah signifikan, yaitu sanggupkah hukum islam memberi jawaban yang cermat dan akurat dalam mengantisipasi gerak perubahan ini? Dengan tepat Iqbal menjawab “bisa kalau umat Islam memahami hukum Islam seperti cara berfikir Umar bin Khattab”.
Akhirnya, tidaklah lengkap rasanya menulis tentang Iqbal tanpa menutupnya dengan salah satu syair[37]nya berikut ini:
Apakah kamu berada dalam tingkat "kehidupan", "kematian", atau "kematian dalam kehidupan"?
Memanggil tiga saksi untuk memberitahu dimana tempat "perhentianmu".
Saksi pertama adalah kesadaran batinmu sendiri-
Lihat dirimu sendiri dengan cahayamu sendiri.
Saksi kedua adalah kesadaran ego yang lain-
Lihat dirimu, lalu sinar ego yang lain daripada milikmu
Saksi ketiga adalah kesadaran Tuhan-
Lihat dirimu, lalu dengan cahaya Tuhan,
Jika kamu berdiri tidak bergerak di depan cahaya ini,
Anggaplah dirimu sendiri seperti hidup dan abadi layaknya Tuhan!
Bahwa manusia sendiri adalah sejati yang berani-
Berani untuk melihat Tuhan berhadapan muka!
Apakah "Mi'raj"? Hanya pencarian seorang saksi
Yang akhirnya dapat menegaskan realitasmu
Seorang saksi yang dengan kesaksiannya membuatmu abadi.
Tak seorangpun dapat berdiri tanpa bergerak oleh keberadaannya;
Dan dia yang dapat, sesungguhnya, dia emas murni.
Apakah engkau hanya butiran debu semata?
Ketatkan simpul egomu;
Dan pegang cepat makhlukmu yang kecil!
Betapa cemerlangnya memancarkan ego kita
Dan menguji kilauan ini dari keberadaan Matahari!
Bersihkan ragamu yang lama;
Dan membangun makhluk baru.
Suatu makhluk yang sesungguhnya;
Atau egomu hanyalah gumpalan asap semata![38]





[1] Miss Luce-Claude Maitre, Introduction to the Thought of Iqbal, terj. Djohan Effendi,  (Bandung : Mizan, 1981), 13.
[2] Herry Mohammad (dkk), Tokoh-Tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20, cet I, (Jakarta : Gema Insani, 2006), 237.
[3] A Mukti Ali, Alam Pikiran Islam Modern di India dan Pakistan, , Cet III,  (Bandung: Mizan, 1998) 174. Lihat juga: Azzumardi Azra dan Syafi’i Ma’arif, Ensiklopedi Tokoh Islam dari Abu Bakr sampai Natsir dan Qardhawi (Bandung: Mizan, 2003), 256. Lihat juga: A.G. Pringgodigdo, Ensiklopedi Umum, (Yogyakarya: Kanisius, 1977),  473.
[4] Herry Mohammad (dkk), Tokoh-Tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20, 237.
[5] A.G. Pringgodigdo, Ensiklopedi Umum, 4.
[6] Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999), 183-184.
[7] ‘Abdul Wahhab ‘Azzam, Iqbal: Siratuh wa Falsafatuh wa Shi’ruh, terj. Ahmad Rofi’ Usman, (Bandung : Pustaka, 1985), 40.
[8] Ia adalah Ahmad bin Abdurrahim bin Wajiduddin bin Mu'azzam bin Ahmad bin Muhammad bin Qawanuddin al-Dahlan. Ia lahir di Kota dekat Delhi pada tanggal 21 Pebruari 1703 M/ 4 Syawal 1114 H dan wafat pada tanggal 29 Muharram 1176 H/ 10 gustus 1762 dalam usia 61 tahun. Karya tulisnya yang monumental adalah Hujjatullah al-Balighah. Cyril Glase,  Ensiklopedi Islam, cet III (Jakarta:  Raja Grafindo Persada, 2002), 185.
[9] Ia adalah seorang penulis, pemikir dan aktivis politik modernis Islam India. Lahir di Delhi tahun 1817 M. Dimasa pemberontakan tahun 1857 ia berusaha mencegah kekerasan yang karenanya banyak orang-orang Inggris tertolong dari pembunuhan. Karena jasanya itu Inggris memberikan gelar kepadanya dengan sebutan Sir. Selanjutnya ia menggunakan kesempatan itu untuk menjalin hubungan baik dengan Inggris tapi semata-mata untuk kepentingan umat Islam India, karena baginya dengan jalan itulah umat Islam dapat tertolong. Dan akhirnya setelah kejadian tahun 1857 itu ia menjalankan tiga proyek besar yaitu: memprakarsai dialog untuk menciptakan saling pegertian antara kaum muslim dan Kristen, mendirikan organisasi ilmiah yang membantu kaum muslim untuk memahami kunci keberhasilan Barat dan menganalisis secara objektif penyebab pemberontakan 1857. (Didin Saefuddin, Pemikiran Modern Dan Postmodern Islam, Jakarta, Grasindo, 2003, 367). Ia mewujudkan cita-citanya meninggikan kaum Muslimin India dengan mendirikan perguruan Islam dengan nama Anglo Oriental College yang selanjutnya berkembang menjadi Universitas Muslim Aligarh di Aligarh tempat kaum terpelajar Islam di India pada tahun 1920. A.G. Pringgodigdo, Ensiklopedi Umum, 25.
[10] Imperium Inggris (British Empire) pada puncak kejayaannya akhir abad ke-19 dan awal abad 20 merupakan kerajaan yang terbesar diseluruh dunia. Koloni yang pertama adalah New-Foundland (1583). Dasar-dasar kerajaan diletakkan pada permulaan abad  ke-17 dengan mendirikan British East India Company. Ibid, 446.
[11] Didin Saefuddin, Pemikiran Modern Dan Postmodern Islam,  51.
[12]Hawasi, Eksistensialisme Mohammad Iqbal, (Jakarta: Wedatama Widya Sastra, 2003), 8-9. Lihat juga Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, 184-185.
[13] Ishrat Hasan Enver, Metafisika Iqbal, cet. I, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), 5.
[14] Didin Saefuddin, Pemikiran Modern Dan Postmodern Islam, 44.
[15]Mohammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam, (New Delhi: Kitab Bhavan, 1981), 60-61.
[16] Muhammad Iqbal, Tajdiid al-Tafkiir al-Di<ni< Fi< al-Isla<m, (Kairo: al-Hai’ah al-Mis{riyah al-‘A<mmah li al-Kitab, 2010),  20-21.
[17] Mohammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam, 51.
[18] Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, 210-211.
[19]Mohammad Iqbal , Asrar-i Khudi , Terj. Bahrum Rangkuti, (Jakarta: Bulan Bintang, 1976), 25.
[20] Saiyidan K.G., Iqbal’s Educational Philosopy, terj. M.I. Soelaeman, (Bandung: Diponegoro, 1981), 125.
[21] Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, 190.
[22] Ibid, 190-191.
[23] Ibid, 194-196.
[24] Ibid.
[25] Ibid.
[26] Ibid, 191.
[27] M.M Sharif, About Iqbal and His Thought, (Lahore: Institute of Islamic Culture, 1996), 147.
[28] Mohammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam, 80.
[29] Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, 208.
[30] Ibid.
[31] Mohammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam, 11-12.
[32] Saiyidan K.G., Iqbal’s Educational Philosopy, 62-63.
[33] Ibid.
[34] Mohammad Iqbal , Asrar-i Khudi, 25.
[35] Abdul Wahhab ‘Azzam, Iqbal: Siratuh wa Falsafatuh wa Shi’ruh, 52.
[36] Mohammad Natsir, Capita Selekta 2, Cet II ( Jakarta: PT Abadi dan Yayasan Kapita Selekta, 2008), 146.
[37] Syair ialah bentuk puisi lama Indonesia: satu bait biasanya terdiri atas empat baris seperti pantun, tetapi keempat barisnya bersajak sama. Perbedaan lain daripada pantun ialah: pantun terdiri atas empat baris dan sudah merupakan kesatuan pikiran, sedangkan syair belum. Syair bias berisikan kisah, ceritera, soal agama, sejarah atau ceritera suatu peristiwa. A.G. Pringgodigdo, Ensiklopedi Umum, 1068.
[38]Allama Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam, (Lahore: Iqbal Academy Pakistan dan Institute of Islamic Culture, 1989), 157.

Daftar Pustaka
‘Azzam, ‘Abdul Wahhab, Iqbal: Siratuh wa Falsafatuh wa Shi’ruh, terj. Ahmad Rofi’ Usman, (Bandung : Pustaka, 1985).
Ali, A Mukti, Alam Pikiran Islam Modern di India dan Pakistan, , Cet III,  (Bandung: Mizan, 1998).
 Azra, Azyumardi dan Syafi’i Ma’arif, Ensiklopedi Tokoh Islam dari Abu Bakr sampai Natsir dan Qardhawi (Bandung: Mizan, 2003).
Enver,  Ishrat Hasan, Metafisika Iqbal, cet. I, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004).
Glase, Cyril,  Ensiklopedi Islam, cet III (Jakarta:  Raja Grafindo Persada, 2002).
Hawasi, Eksistensialisme Mohammad Iqbal, (Jakarta: Wedatama Widya Sastra, 2003).
Iqbal, Allama Muhammad, The Reconstruction of Religious Thought in Islam, (Lahore: Iqbal Academy Pakistan dan Institute of Islamic Culture, 1989).
Iqbal, Mohammad, Asrar-i Khudi , Terj. Bahrum Rangkuti, (Jakarta: Bulan Bintang, 1976).
_______________, The Reconstruction of Religious Thought in Islam, (New Delhi: Kitab Bhavan, 1981).
_______________, Tajdiid al-Tafkiir al-Di<ni< Fi< al-Isla<m, (Kairo: al-Hai’ah al-Mis{riyah al-‘A<mmah li al-Kitab, 2010).
K.G., Saiyidan, Iqbal’s Educational Philosopy, terj. M.I. Soelaeman, (Bandung: Diponegoro, 1981).
Maitre, Miss Luce-Claude, Introduction to the Thought of Iqbal, terj. Djohan Effendi,  (Bandung : Mizan, 1981).
Mohammad, Herry (dkk), Tokoh-Tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20, cet I, (Jakarta : Gema Insani, 2006).
Nasution, Hasyimsyah, Filsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999).
Natsir, Mohammad, Kapita Selekta 2, Cet II ( Jakarta: PT Abadi dan Yayasan Kapita Selekta, 2008).
Pringgodigdo,A.G., Ensiklopedi Umum, (Yogyakarya: Kanisius, 1977).
 Saefuddin, Didin, Pemikiran Modern Dan Postmodern Islam, (Jakarta, Grasindo, 2003).
 Sharif, M.M, About Iqbal and His Thought, (Lahore: Institute of Islamic Culture, 1996).